Seputar Dunia Islam

Sabtu, 21 Mei 2016

Tangisan Anak Perempuan Sang Khalifah


Dikisahkan bahwa anak perempuan khalifah Umar bin Abdul Aziz masuk keruangan ayahnya sambil menangis. Ketika itu ia masih seorang gadis kecil. Waktu itu adalah hari raya. Lalu beliau bertanya: Apa yang membuatmu menangis?

Ia menjawab:

"Seluruh anak-anak memakai pakaian baru....Sementara aku anak seorang Khalifah memakai pakaian yang sudah usang.."

Umar tersentuh melihat tangisan anaknya. Kemudian beliau pergi menemui penjaga Baitul Mal, dan mengajukan permintaan kepadanya.

"Bolehkah aku mengambil gajiku bulan depan?"

Penjaga baitul mal bertanya:

"Kenapa wahai Amirul Mu'minin?"

Lalu ia menceritakan keadaan anaknya.

Penjaga Baitul Mal menjawab: Tidak ada masalah, tapi dengan satu syarat.

Umar bertanya: Apa syaratnya?

Penjaga baitul mal:

"Tuan bisa memberikan jaminan kepadaku bahwa tuan akan hidup sampai bulan depan, supaya bisa terus bertugas dan mendapatkan gaji yang ingin tuan ambil lebih dulu."

Umar langsung meninggalkannya dan kembali menemui anaknya.

Anaknya bertanya: "Apa yang sudah ayah lakukan..?"

Beliau menjawab: "Apakah kalian bisa bersabar dan kita masuk surga bersama-sama, atau kalian tidak bisa bersabar dan ayahmu masuk neraka?"

Mereka menjawab: "Kami akan sabar wahai ayahanda."

***
Sekiranya kita pada hari ini mempunyai tiga orang ini: penjaga Baitul Mal, Umar dan anak-anak Umar.

Jadilah seperti mereka pada posisimu masing-masing. Berkorbanlah dengan kehidupan yang fana untuk memperoleh kehidupan yang abadi.

Selama itu tidak halal bagimu. Maka jangan berusaha mendapatkannya dengan cara haram.

Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezekiMu yang halal dari yang haram.

(Disarikan dari ceramah seorang ustadz di mesjid)

*dari fb Ustadz Zulfi Akmal, Cairo

Suatu Malam Di Istambul

Sultan Murad IV Ghazi
Di dalam buku hariannya Sultan Turki Murad IV mengisahkan, bahwa pada suatu malam dia merasakan kekalutan yang sangat, dia ingin tahu apa penyebabnya. Maka diapun memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang tengah dirasakannya.

Sultan berkata kepada kepala pengawal: "Mari kita keluar sejenak".

Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara  menyamar.
Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak peduli sedikitpun.

Sultan pun memanggil mereka, mereka tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan. Mereka bertanya: "Apa yang kau inginkan?.
Sultan menjawab: "Mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Di mana keluarganya?"
Mereka berkata: "Orang ini Zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina".
Sultan menimpali: "Tapi..., bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya".

Mereka lalu membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya. Melihat suaminya meninggal, sang istripun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap kepada jenazah suaminya: "Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang sholeh".

Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget. Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya".

Sang istri menjawab: "Sudah kuduga pasti akan begini..."
"Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawa ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata: "Aku telah meringankan dosa kaum muslimin".
"Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: "Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi".
"Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: "Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam".
" Orang-orangpun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir."

Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: "Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu".
Ia hanya tertawa, dan berkata: "Jangan takut, bila aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya".

Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: "Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatkannya dan menguburkannya".

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para masyaikh dan seluruh masyarakat.

(Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhory dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV)

Wallahu a'lam bish shawwab. 

Saudaraku, Apa ikhtibar yang dapat kita ambil dari kisah ini ?? 
Jangan suka menilai orang lain dari sisi lahiriahnya saja. Atau menilainya berdasarkan ucapan orang lain. Terlalu banyak yang tidak kita ketahui tentang seseorang. Apalagi soal yang tersimpan di tepian paling jauh di dalam hatinya. Kedepankan prasangka baik terhadap saudaramu. Boleh jadi orang yang selama ini kita anggap sebagai calon penduduk neraka, ternyata penghuni Firdaus yang masih melangkah di bumi.

Jadi... , Jangan pernah menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja...


Sabtu, 02 April 2016

April Mop, Sejarah Kelam Pembantaian Umat Islam


Ketika bulan April menjelang, ada suatu kebiasaan jahiliyah yang patut kita waspadai bersama sebagai seorang Muslim yaitu 1 April sebagai hari April Mop. April Mop sendiri adalah hari di mana orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Tapi tahukah Anda apakah April Mop itu sebenarnya?

Sebenarnya, April Mop adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.

Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop yang hanya berlaku pada tanggal 1 April adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.

Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Terutama di kalangan anak muda. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.

Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan? April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol.

Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur’an, namun bertingkah-laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol.

Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Qur’an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan salib. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.

Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granada dan berlayar meninggalkan Spanyol.

Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granada keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.

Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara salib segera membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.

Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya se-iman disembelih dan dibantai oleh tentara salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.

Jadi, perhatikan sekeliling Anda, anak Anda, atau Anda sendiri, mungkin terkena bungkus jahil April Mop tanpa kita sadari.

Minggu, 06 Maret 2016

Gerhana Matahari Dalam Perspektif Islam

Gerhana Matahari Total
Gerhana Matahari Total akan melintas di 12 provinsi di Indonesia pada 9 Maret. Indonesia merupakan negara satu-satunya yang dapat menikmati Gerhana Matahari Total.

Gerhana matahari merupakan peristiwa di mana posisi Bulan, Matahari dan Bumi sejajar dan berada pada garis lurus. Saat itu Bulan akan melintas diantara Matahari dan Bumi, untuk beberapa waktu cahaya Matahari ke Bumi akan terhalang bayangan Bulan. Ketika fase total itu terjadi bulan menutupi Matahari, akan tampak corona Matahari akan tampak seperti menjulur dari pinggir bagian yang ditutupi Bulan. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer. (wikipedia.org)

Lalu bagaimana kita sebagai umat Islam menyikapi peristiwa tersebut. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an :

"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar & bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui." (Qs.Yunus  : 5)

Gerhana merupakan sebuah fenomena alam yang kerap terjadi pada masa kita. Kejadian ini jelas adalah sebuah tanda-tanda kebesaran Allah, untuk memberikan sebuah pelajaran penting kepada manusia agar mau kembali kepada Allah  dan bertaubat kepada-Nya.

Banyak masyarakat awam yang tidak paham bagaimana menghadapi fenomena alami ini. Banyak di antara mereka yang mengaitkan kejadian alam ini dengan mitos-mitos dan keyakinan khurofat yang menyelisihi aqidah yang benar. Di antaranya, ada yang meyakini bahwa di saat terjadinya gerhana, ada sesosok raksasa besar yang sedang berupaya menelan matahari sehingga wanita yang hamil disuruh bersembunyi di bawah tempat tidur dan masyarakat menumbuk lesung dan alu untuk mengusir raksasa.

Ada juga masyarakat yang meyakini bahwa bulan dan matahari adalah sepasang kekasih, sehingga apabila mereka berdekatan maka akan saling memadu kasih sehingga timbullah gerhana sebagai bentuk percintaan mereka.

Sebagian masyarakat seringkali mengaitkan peristiwa gerhana dengan kejadian-kejadian tertentu, seperti adanya kematian atau kelahiran, dan kepercayaan ini dipercaya secara turun temurun sekeyakinan umum masyarakat.

Kemudian Nabi  bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Tidaklah keduanya mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena lahirnya seseorang. Jika keduanya mengalami gerhana, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga gerhana selesai..” (HR. Bukhari dan Muslim)

Gerhana matahari harus memberi nilai tambah dalam keimanan kita, bukan hanya menyaksikan, nobar dan sebagainya. Namun harus mampu menambah keimanan kita sebagaimana firman Allah:

“Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka,” (QS. Al-Anfal: 2).

Semoga fenomena ini bukan ajang untuk selfi, mengukir album dan kesenangan lainnya. Tapi dengan kejadian ini mari kita ajak seluruh keluarga, anak didik di sekolah, pegawai di kantor dan tempat-tempat lainnya untuk bersama-sama takut kepada Allah, berdzikrir, berdo’a, bertakbir, sholat dan bersedekah. Wallahu a’lam.

Jumat, 04 Maret 2016

Pohon Yang Tumbuh Di Atas Langit


illustrasi pohon bidara
Sidratul Muntaha merupakan sebuah pohon bidara yang sangat tinggi, tumbuh di langit ke enam dan menjulang hingga langit ke tujuh. Di pohon ini lah Nabi Muhammad bertemu Allah SWT saat menjemput perintah shalat pada peristiwa Isra’ Mi’raj.

Konon pohon inilah yang menandai akhir dari langit dan menjadi penanda batas dimana makhluk tidak dapat melewatinya. Dinamakan sidratul muntaha (pohon puncak), karena ilmu malaikat puncaknya sampai di sini. Tidak ada yang bisa melewatinya, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengenai Sidratul Muntaha, banyak ulama yang menyodorkan berbagai pendapat. Hadist dari Ibnu Abbas (Radi Allah Anhu) mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang Sidratul Muntaha.

Nabi Muhammad mendeskripsikan bagaimana perjalalannya ke Sidratul Muntaha yang ditemani oleh Malaikat Jibril. Ia menceritakan bagaimana keadaan Sidratul Muntaha namun tidak bisa menggambarkan keindahannya dengan rinci karena hanya Allah SWT yang maha tahu. Pandangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melebihi batas yang diizinkan. Ini menunjukkan bagaimana adab beliau saat menjadi tamu Allah SWT.

Di sana Nabi Muhammad melihat berbagai kejadian yang luar biasa. Beliau melihat surga, melihat neraka dan melihat kejadian gaib pada malam isra miraj. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Ketika saya dimi’rajkan ke langit ke tujuh, saya diajak ke sidratul muntaha,… ketika pohon ini diliputi perintah Allah, dia berubah. Tidak ada seorangpun manusia yang mampu menggambarkannya, karena sangat indah. (HR. Abu Ya’la Al-Mushili 3450 dan dishahihkan Husain Salim Asad).
Nabi Muhammad SAW menggabarkan sekilas dalam beberapa hadist yang jika dirangkum menyebutkan bahwa Sidratul Muntaha adalah pohon yang terbuat dari emas seluruhnya. Beberapa dahan yang terbuat dari zamrud, ada juga yang dari ruby. Dari akarnya keluar dua sungai luar dan dua sungai dalam, Adapun dua yang dalam itu ada di surga sedangkan dua yang di luar itu adalah Nil dan Eufrat. Pohon ini mengukur jarak seratus lima puluh tahun perjalanan dari kaki ke puncaknya.

Nabi Muhammad SAW juga menggambarkan bahwa daun Sidratul Muntaha menyerupai telinga gajah, dan mereka sangat besar: Satu dahan saja dari mereka akan menutupi seluruh dunia. Buahnya berbentuk seperti kendi air. Seluruh pohon yang ditelan oleh cahaya. Pohon ini dikelilingi dan dipeluk oleh banyak malaikat di atasnya. Malaikat Jibra'il juga memiliki tempatnya pada cabang-cabang pohon ini, dan itu adalah cabang yang terbuat dari zamrud hijau

Selain itu, juga tersembur sebuah pegas di bawah pohon itu. Malaikat Jibril mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa pegas tersebut itu bernama Salsabil. Ini adalah sumber dari dua air, satu adalah Kawthar (Kelimpahan); yang lain adalah Rahma (rahmat). Kedua sungai mengalir sebelum gerbang Garden. Musim semi Salsabil adalah sumber dari perairan ini.

Dikatakan pula bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melihat Allah yang berupa cahaya. Di Sidratul Muntaha ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan perintah salat 5 waktu.

Dari beberapa hadist bisa menyimpulkan gambaran Sidratul Muntaha :
Sidratul muntaha bentuknya pohon, layaknya pohon bidara. Sama nama, namun beda hakekat.

Pohon ini berada di atas langit ketujuh. (Menurut kisah Isra Mi'raj)
Pohon ini sangat besar, hingga ketika penunggang kuda hendak melintasi bayang-bayangnya, dia membutuhkan waktu 100 tahun baru bisa sampai ke ujung.

Sidratul muntaha memiliki duan dan buah
Daun sidratul muntaha seperti telinga gajah, dan buahnya seperti kendi yang sangat besar.

Terdapat laron-laron dari emas di sana.
Diliputi dengan perintah Allah, hingga warnanya berubah.
Pohon sidratul muntaha sangat indah, hingga tidak ada manusia yang mampu menggambarkan keindahannya.

Di dekat sidratul muntaha terdapat surga
Deskripsi tentang Sidratul Muntaha dalam hadits-hadits tentang Isra Mi’raj tersebut hanyalah berupa gambaran (metafora) sebatas yang dapat diungkapkan kata-kata. Hakikatnya hanya Allah yang Maha Tahu. Ya Rab, berikan kami kekuatan istiqamah dan masukkan kami ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu.

Rabu, 17 Februari 2016

Perjalanan Seorang Atheis Menemukan Islam



Kisah seorang atheis yang menemukan cahaya Islam diuraikan dengan gaya bertutur yang diterjemahkan sesuai penuturannya didalam video di Youtube. Berikut ini kisahnya.

Sederhananya ceritaku dimulai pada tahun pertama aku kuliah. Aku mengalami tahun dimana banyak masalah menerpaku, orang tuaku bercerai tahun itu, anjingku mati, itu merupakan hari menyedihkan, subhanallah.  Aku mengalami dua kali kecelakaan mobil dalam angka dua minggu. Dan hal yang menyedihkan juga, temanku meninggal tahun itu.

Kupikir tahun itu membuatku berpikir “Kenapa aku disni? Apa tujuan kehidupan? Kenapa aku harus bangun di pagi hari? Kenapa aku peduli? Kenapa aku tidak duduk di sofa dan menonton TV saja?”

Dan kurasa aku mulai bertanya tentang hidup, dan hal itu menuntunku untuk memulai sedikit petualangan rohani.

Secara naluriah sebagai orang Australia, hal pertama yang kulakukan adalah meneliti Kristen. Aku punya beberapa teman yang memeluk Kristen dan aku ingat berpergian ke acara camping gereja. Itu salah satu camping terlucu yang pernah kuikuti sepanjang hidupku.

Setiap orang bernyanyi, aku tidak tahu kata-katanya, aku tidak tahu apa yang kuucapkan. Mereka punya suara yang indah tapi terasa aneh. Dan setiap orang berkata padaku bahwa betapa Tuhan mencintaiku, dan aku berpikir “Tuhan mencintaiku? Tapi kok anjingku mati.” Subhanallah.

Jadi aku terus meneliti Kristen dan aku meneliti aspek berbeda dari kekristenan, jadi kita beralih membicarakan tentang Katolik, kita membahas tentang Anglican, Baptist, pendeta, pastor, dan setiap kali aku pergi ke sana dan bertanya, aku perhatikan mereka tidak mengambil Bible dan mulai berkata “Inilah jawabannya saudaraku.” Mereka langsung menawabku saja. Mereka langsung menjawab dari pendapat mereka sendiri.

Dan aku mulai menyadari ada banyak tafsir dari kekristenan dan banyak orang mempunyai penjelasan masing-masing. Seorang pendeta dari suatu gereja percaya akan satu aspek kekristenan, sementara yang lain memiliki pendapat yang berbeda. Jadi aku mulai berpikir, Bible merupakan satu buku tapi begitu banyak perbedaan dan itu membingungkan.

Pada waktu itu aku berada di tahun pertama kuliah, aku juga bekerja di sebuah pom bensin, salah satu kerja paruh waktuku. Dan salah satu teman kuliahku seorang Hindu, orang Hindu dari India. Kita sering berganti shift dan pada saat itu aku sangat ingin tahu, lalu aku bertanya padanya, “Kawan, apa yang terjadi dengan manusia kepala gajah? Mengapa bisa begitu? Kenapa Tuhan itu mempunyai kepala gajah?” Dia menjawab, “Itu Ganesha.” Aku katakan, “Mestinya kau bisa ganti dengan kepala singa atau sesuatu yang sedikit lebih baik?” Ya, ini debat agama sambil melayani orang-orang membeli bensin.

Dan sekali lagi, kurasa doktrin ini susah untuk dipahami. Jadi kuputuskan untuk menganalisis lebih dalam.

Temanku adalah seorang Mormon. Agama ini sebenarnya lebih menarik bagiku daripada sekte-sekte Kristen yang lain. Gereja dari Latter Day Saints. Mereka cukup ketat. Mereka tidak minum alkohol dan tidak juga minum kafein. Tapi mereka suka minum cola, karena yang kutahu Leboz (orang Libanon) suka cola. Tetapi sekali lagi ada pengalaman rohani baru yang harus kujalani sebelum menganut agama ini dan aku tidak suka hanya mendapatkan pengalaman rohani, aku ingin bukti.

Aku juga meneliti Yudaismne, apakah kalian percaya? Namaku sebelum Abu Bakar adalah Ruben. Jadi jika kalian mungkin nonton film Hollywood, kalian melihat Rubenstein, dan mereka mungkin berpikir bahwa aku seorang Yahudi dan “Orang ini adalah salah satu dari kita.” Tapi sekali lagi, aku tidak menemukan apa yang sedang kucari di sini.

Terakhir, aku mencoba Budha dan kurasa ini adalah agama yang akan kupilih, kupikir ini hebat. Banyak orang-orang kulit putih menganut agama ini dan ini membuatku tertarik. Mereka juga tampak bersatu dengan alam dan itu menurutku paling menarik. Tapi semakin aku mendalaminya, kusadari itu bukanlah sebuah agama Tuhan, itu hanya sebauh gaya hidup yang baik.

Dan salah satu teman baikku yang menganut Kristen mengatakan, “Katakan padaku agama yang telah kau teliti.” Kukatakan semua, “Yudaisme, Kristen, Taosisme, Budha, Hindu.” Dia berkata, “Bagaimana dengan Islam?” Kujawab, “Islam?! Mereka teroris! Aku tak akan meneliti agama itu. Mereka gila! Kenapa juga aku harus meneliti agama itu?”

Tapi setelah beberapa waktu, aku berjalan ke sebuah masjid. Ini adalah perjalanan abadiku. Jadi aku berjalan lurus, masih pakai sepatu, terus melewati karpet untuk shalat. Ada saudara muslim yang sedang shalat, aku berjalan di depannya seiring dia bersujud, aku hampir menginjak kepalanya. Subhanallah, aku tak tahu apa yang sedang kulakukan.

Kulihat ke belakang dan kulihat orang ini, kalian mungkin mengenalnya, dia adalah Abu Hamza. Dia datang ke sini dan berceramah beberapa kali. Subhanallah, aku memanggilnya Abu Da’n, karena dia mempunyai jenggot yang sangat lebat, masya Allah.

Dia berjalan ke arahku dan aku berpikir “Hari ini aku akan mati. Ini adalah hari terakhir aku hidup. Aku akan mati. Aku seorang pria kulit putih di Leb-Land (Libanon). Apa yang harus kulakukan? Aku akan mati.

Dia terus berjalan bagaikan berjalan di Gurun Sahara, sebuah abaya (gamis) yang besar, enggot yang lebat. Tapi subhanallah, kata-kata pertama yang dia ucapkan adalah “Selamat siang kawan! Apa kabarmu?” Subhanallah, aku sangat terkejut dengan keramahannya.

Sebagai orang Australia -orang Australia jangan tersinggung- tapi didikanku berasal dari didikan negaraku. Orang tuaku membesarkanku sebagai seorang atheis. Mereka dibesarkan sebagai Kristiani. Mereka terpaksa pergi ke gereja tiap Minggu dan mereka sangat membenci hal itu. Jadi ketika aku dan saudara-saudaraku lahir, mereka menanamkan di otak kami bahwa “Ketika kau mati, selesai sudah. Itu saja. Tidak ada akhirat, tidak ada Tuhan, itu semua bohong. Jadi aku dibesarkan sebagai atheis.

Jadi, ketika aku beralan, aku melihat Abu Hamza dan dia berbicara kepadaku dengan sangat sopan, aku sangat bersyukur. Karena perasaanku aku telah melihatnya tadi di berita jam 5, ia sedang membajak sebauh pesawat di hari sebelumnya.

Orang Australia juga ramah, jangan salah paham, tapi Leboz (Orang Libanon) adalah orang yang ramah yang pernah kutemui. Seiring Abu Hamza berbicara, saudara-saudara muslim yang lainnya membuatkanku secangkir teh. Jujur saja, aku harus bolak-balik ke toilet setiap 5 menit. Mereka terus saja menyediakanku teh dan biskuit. Aku tak pernah dijamu seperti ini sebelumnya. Dan kupikir, di sisi lain, aku terus kembali karena biskuitnya, dan juga karena agamanya.

Jadi, ketika duduk bersama dengan saudara-saudara muslim ini, akupun bertanya. Kutanya segala pertanyaan yang pernah kuajukan kepada pendeta, pastor, dan teman-temanku. Subhanallah, hal yang paling menyentuhku adalah, setiap aku bertanya, mereka tidak hanya menjawab, mereka mengambil Alquran dan berkata, “Baca ini bro.” dan di sana ada jawabannya kapanpun aku bertanya.

Dan aku bertanya pertanyaan lainnya, pertanyaan yang sulit, bukan pertanyaan yang mudah, “Kenapa wanita harus mengenakan jilbab? Kenapa dengan jilbab? Bagaimana bisa aku boleh punya 4 istri tapi wanita tidak boleh punya 4 suami? Aku ingin tahu segala pertanyaan sulit yang merupakan pertanyaan yang akan kalian juga ajukan ketika kalian baru tahu tentang Islam.

Setelah sekian lama mereka terus menjawab pertanyaan dengan Alquran, bukan dari pendapat pribadi mereka dan aku jadi frustasi karenanya. Dan sebenarnya aku berkata pada salah satu saudara muslim. Dalam waktu ini, aku telah bolak-balik ke sana sekian minggu, di sana selalu ada beberapa saudara muslim ketika aku pergi. Dan aku bertanya kepada salah satu satu diantara mereka “Apa pendapatmu tentang masalah ini?” Kenapa kau tidak memberikan pendapatmu? Dan salah satu saudara muslim berkata kepadaku “Aku tidak boleh berpendapat dengan pendapatku, karena ini adalah firman Tuhan.”

Subhanallah, aku ingat hal itu sangat menyentuh hatiku. Aku bertanya, “Bolehkah aku membawa satu buah Alquran?” Dan aku tidak mengatakan bahwa aku akan meninggalkannya di sofa atau semisalnya. Aku akan menghormati kitab ini.

Aku membawa Alquran pulang dan mulai membacanya. Apa yang kutemukan saat membaca Alquran tidak seperti aku sedang membaca sebuah cerita. Itu terasa seperti seseorang memberiku perintah atau petunjuk.

Di suatu malam, aku memutuskan untuk mencoba dan membuat suasana rohaniah. Aku menyalakan lilin, membiarkan jendela dan gorden terbuka. Aku mencoba untuk benar-benar merasakan nuansa rohani. hari itu adalah malam musim panas di Melbourne. Dan aku duduk disana berpikir “Ini dia! Inilah malamnya.”

Aku telah menyelidiki semua bukti rohani, semua bukti ilmu pengetahuan tentang fakta bahwa gunung adalah penyangga bumi, tentang bagaimana embrio berkembang dalam janin wanita semuanya adalah bukti yang menakubkan tapi aku masih butuh sedikit motivasi lagi. Ini terasa seperti aku berada di pinggir sebuah tebing, aku siap melompat, aku hanya butuh sebuah dorongan.

Jadi, aku duduk di sana dan terasa sangat sunyi. Aku membaca Alquran dan berhenti. Aku mengatakan, “Allah, inilah saatnya. Inilah waktunya aku memasuki Islam, apa yang aku butuhkan hanyalah sedikit tanda kebesaran-Mu, sedikit saja, tidak usah yang besar, mungkin sebuah kilat, mungkin setengah rumahku ambruk, atau Kau tahu, yang kecil. Kecil untuk-Mu, Kaulah yang menciptakan bumi, ayolah.

Jadi aku duduk disana, aku sedang menunggu kemungkinan api lilinnya melompat 4 meter di udara seperti di film-film. Dan aku berkata, “Oke, ayolah!” Dan subhanallah, tidak teradi apa-apa. Benar-benar tidak terjadi apapun.

Seumurnya aku sangat kecewa. Aku masih duduk disana dan kuulangi perkataanku, “Allah, ini kesempatan-Mu. Aku di sini. Aku tidak pergi kemanapun. Aku akan memberi-Mu kesempatan kedua. Mungkin Kau sedang sibuk. Ini siang hari, mungkin Kau sedang mengatur dunia karena ada banyak hal yang terjadi. Kali ini mungkin hanya penampakan karpet terbang, Kau tahu sesuatu yang kecil., lupakan saja tentang rumah atau lilin tadi, seekor burung bisa kentut di luar, aku tak peduli, apapun itu. Oke, ayolah.

Dan subhanallah, benar-benar tidak ada apa pun yang terjadi, bahkan aku tidak dapat berkata “Oh itu dia, temboknya jadi retak, itu dia!” Benar-benar tidak ada yang terjadi. Aku sangat kecewa dan cemberut.

Aku duduk di sana berpikir, sudahlah, ini kesempatan terakhirku masuk Islam dan benar-benar belum menemukannya. Namun kuambil lagi Alquran dan kubaca lagi. Subhanallah, ayat berikutnya di halaman selanjutnya “Untuk kalian yang meminta petunjuk, tidakkah telah Kami tunjukkan? Lihatlah di sekitarmu., lihatlah bintang-bintang, lihatlah matahari, lihatlah air. Inilah tanda-tanda untuk orang yang mengetahui.” Subhanallah… Aku menutupi kepalaku dan berpura-pura aku sedang tertidur, setakut itulah aku.

Aku tak percaya betapa sombongnya aku menginginkan tanda yang ku-inginkan padahal sudah ada sekian lama tanda-tanda kebesaran Allah di sekelilingku. Fakta adanya dunia, adanya ciptaan, inilah tanda-tanda bagi kita.

Hari berikutnya aku memutuskan inilah saatnya aku menjadi muslim. Seumurnya aku telah meneliti Islam selama kurang lebih 6 bulan. Aku pergi ke Masjid dan berkata pada diriku sendiri “Inilah saatnya aku akan mengucapkan syahadat.” Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tak tahu apa kata-katanya. Hari itu dekat dengan shalat isya, mungkin saja, 7 atau jam 8 malam. Aku masuk ke dalam masjid dan aku tidak percaya ada sekitar 1000 orang di dalam masjid tersebut. Aku berpikir “Subhanallah, lihatlah ini, betapa kuatnya mereka!” Ternyata itu hari pertama Ramadhan.

Jadi aku duduk disana dan aku sangat gugup saat itu. Aku harus berdiri dan seseorang membimbingku “Kau harus mengucapkan kata-kata ini bro ‘asy-hadu‘” Aku katakan “Apa? Ash apa? Bisakah dalam bahasa Inggris saja?” Orang itu mengatakan, “Tidak, kau harus mengatakannya dalam bahasa Arab.”

Aku berpikir, lihatlah semua lautan jenggot ini dan aku harus mengatakannya di depan mereka semua?! Kalau aku mengucapkannya dengan salah, aku bisa mati. Sampai demikian rasa takutku karena image umat Islam. Dan mereka semua menyorotkan pandangan mereka padaku, padahal orang Australia tidak tahan dengan tatapan demikian.

Aku berdiri dan subhanallah, seiring aku mengucapkan kata-kata itu, semua ketakutan menghilang dari pikiranku. Terasa seperti sebuah shower ada dalam kepalaku dan seseorang menyalakan air dinginnya. Terasa seakan-akan aku telah dibasuh bersih. Aku ucapkan syahadat dan aku tak menduga begitu banyak saudara muslim menghampiri dan “Takbir! Allahu Akbar!!” Lalu mereka mulai menciumku dan memelukku. Aku tidak pernah dicium oleh begitu banyak pria dalam hidupku, tapi itu adalah hari yang indah, harus kuakui. Hari itu adalah hari dimana aku mendapat lebih banyak saudara daripada yang kubayangkan.

Keluargaku begitu khawatir bahwa aku akan menjadi sedikit aneh, bahwa aku akan menembakkan AK-47 dan meledakkan granat.  Tapi akhirnya mereka menyadari bahwa agama ini membuatku menjadi orang yang lebih baik dan bisa diandalkan.


Jawaban Tegas Sultan Brunei Terhadap Kritikan Barat Atas Penerapan Syariat Islam



Setelah Brunei Darussalam memutuskan untuk menerapkan Syari’at Islam di negaranya, banyak pihak yang anti Syari’ah terguncang. Media Barat ramai-ramai mengecam kebijakan tersebut, menganggap bertentangan dengan hukum internasional, melanggar hak asasi manusia, serta kecaman keras lain yang tidak pantas. Para selebriti dunia pun turut ambil bagian dalam aksi protes tersebut dengan memboikot hotel milik Sultan.

Kecaman tersebut juga ditujukan kepada diri pribadi Sultan Brunei yang merupakan kekuatan besar di balik penerapan Syari’ah Islam di Brunei. Mereka mencari-cari kesalahan pribadi sang Sultan, serta membuat fitnah terhadap keluarganya. Media-media Indonesia pun ikut memberondong kebijakan tersebut dengan aneka fitnah yang keji.

Kecaman tersebut tentu saja aneh dan tidak beralasan. Karena penerapan Syari’at Islam di Brunei berlaku untuk negara Brunei, dan yang mendapat dampak dari kebijakan tersebut adalah penduduk Brunei yang notabene mereka enjoy saja. Akan tetapi, kebijakan penerapan Syari’at Islam membuat banyak pihak yang merasa terganggu kepentingannya mencari celah untuk menggembosi kebijakan tersebut.

Berikut jawaban tegas dari Sultan Brunei Hassanal Bolkiah terkait kecaman keras yang ditujukan atas kebijakan penerapan Syari’ah Islam di negaranya, sebagaimana dilansir oleh My News Hub.

“Di negara Anda, Anda mengklaim menerapkan kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan beragama, dan sebagainya. Hal tersebut ada dalam konstitusi Anda dan sistem politik Anda, identitas nasional Anda, hak Anda dan cara hidup Anda.”

“Di negara kami, kami mempraktekkan budaya Melayu, Islam, Sistem Monarki, dan kita akan menerapkan hukum dan Syariah Islam. Islam adalah konstitusi kami, identitas nasional kami, hak kami, dan cara hidup kami,”

“Kami mungkin menemukan celah (kelemahan) dalam sistem hukum dan peradilan Anda, dan Anda mungkin menemukan hal yang sama pada kami, tapi ini adalah negara kami. Sama seperti Anda yang mempraktikkan hak Anda untuk menjadi gay, dll untuk kehidupan Anda di dunia ini. Sedangkan kami mempraktekkan hak-hak kami untuk menjadi Muslim untuk kehidupan di dunia dan akhirat.”

“Ini adalah sebuah negara Islam yang mempraktekkan hukum Islam. Mengapa Anda tidak khawatir tentang anak-anak Anda yang ditembak mati di sekolah-sekolah, khawatir tentang penjara-penjara Anda yang tidak mampu untuk menampung narapidana, khawatir tentang tingginya tingkat kejahatan, khawatir tentang tingginya tingkat bunuh diri dan aborsi, khawatir tentang apa saja yang seharusnya Anda khawatirkan di negara Anda. Sebagian besar agama menentang homoseksualitas, itu bukanlah sesuatu yang baru.”

“Pada saat Anda mendengar bahwa Islam dan Muslim membuat sikap dan berusaha untuk meneguhkan kembali iman mereka, Anda menghakimi, Anda melakukan boikot, Anda mengatakan bahwa itu salah, itu bodoh, itu biadab.”

“Sekali lagi, seharusnya Anda fokus terhadap kekhawatiran-kekhawatiran yang telah saya sebutkan sebelumnya. Apakah tidak salah [hukum] yang membolehkan senjata mematikan? Apakah tidak salah [hukum] yang membolehkan bayi yang belum lahir dibunuh? Apakah tidak salah [hukum] yang membolehkan gaya hidup yang menghasilkan AIDS dan terputusnya generasi?”

“Mengapa Anda begitu peduli terhadap apa yang terjadi di sini, di sebuah negara Islam, sedangkan pada saat yang sama Anda bahkan tidak membuka mata tentang apa yang terjadi di Suriah, Bosnia, Rohingya, Palestina, dan lain-lain?”

“Ribuan orang terbunuh di sana dan Anda tidak peduli, tidak ada seorangpun yang terbunuh di sini di bawah hukum Syari’ah ini, dan Anda begitu meributkannya, bahkan pada saat warga di sini yang langsung terkena dampaknya, menerimanya dengan damai.”

“Hukuman mungkin keras tetapi tidak berarti bahwa ini lebih mudah untuk dilakukan. Ada proses yang harus dilalui sebelum suatu hukuman yang sebenarnya dijatuhkan. Kami baik-baik saja dengan ini, dan kami senang.”

Sumber : Arrahmah.com