Seputar Dunia Islam

Senin, 10 April 2017

Demokrasi Korporasi

Ketika berbicara tentang peran politik umat Islam, banyak dikalangan umat mengkhawatirkan kecenderungan liberalisasi politik saat ini, yang tampaknya akan makin meminggirkan peran umat Islam. Mengenai hal ini, Prof. Jimly Asshidiqie memberikan penjelasan yang menarik. Pada intinya beliau mengatakan, saat ini  demokrasi di Indonesia memang telah berkembang menjadi corporated democracy / demokrasi korporasi. Aslinya, demokrasi itu dikatakan sebagai sistem politik “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Namun, dalam faktanya demokrasi sekarang telah dikooptasi oleh para pemilik modal. Dengan kekuatan uangnya, mereka menguasai media massa, market (pasar), society (masyarakat), bahkan state (negara), termasuk di dalamnya partai-partai politik dan lembaga-lembaga politik.

Sebenarnya gejala berkembangnya corporated democracy sudah lama ditengarai. Presiden Rutherford B. Hayes pada tahun 1876 mengatakan bahwa kondisi demokrasi di Amerika Serikat pada tahun itu adalah “from company, by company, and for company”. Gejala itu ia lihat hanya sebelas tahun sepeninggal Presiden Abraham Lincoln (1860-1865) yang semasa hidupnya dengan gagah mengatakan bahwa demokrasi adalah “from the people, by the people, and for the people".

Peran para pemilik modal dalam dunia politik di Indonesia dilihat oleh Nanik S Deyang, mantan wartawan senior, sangatlah nyata. Ia, yang pernah menjadi salah satu wartawan dengan spesialisasi meliput konglomerat di Indonesia ini, paham betul bagaimana perangai konglomerat Cina atau para taipan di Indonesia, termasuk hubungan mereka dengan lembaga-lembaga negara mulai Kepresidenan, TNI/Polri, DPR dan lainya. Nanik mencontohkan, ketika seorang presiden hendak melakukan reshuflle kabinet, konsultasinya dengan konglomerat Cina.

Singkat cerita, ia menegaskan, negara ini sejatinya memang dikuasai oleh para pemilik modal dari kalangan konglomerat Cina. Seperti disebut Prof. Jimly, mereka kini praktis sudah menguasai society melalui penguasaan media massa dan market. Bahkan mereka juga sudah menguasai state melalui penguasaan partai politik yang dibeli atau dibiayai, serta tentu saja lembaga parlemen tempat berkumpul para wakil rakyat dari partai-partai yang sudah mereka kuasai itu. Bila partai politik sudah dikuasai maka pejabat sipil, militer maupun kepolisian, termasuk pejabat di lembaga penegak hukum, yang diangkat oleh partai politik itu, juga ikut dikuasai dan dikendalikan. Dari sini bisa di mengerti mengapa sedemikian banyak kasus-kasus korupsi seperti kasus Sumber Waras, Busway, tanah Cengkareng, juga proyek reklamasi yang melibatkan Ahok hingga sekarang tak kunjung diproses. Hanya setelah ada tekanan dahsyat dari umat melalui Aksi 411 saja, Ahok dijadikan tersangka untuk kasus penistaan agama.

Namun belakangan, mereka merasa “membeli” terlalu mahal politikus dan partai politik. Lalu mereka berpikir, mengapa tidak memunculkan presiden dari kalangan mereka sendiri. Apalagi demokrasi di Indonesia sudah demikian longgar. Rakyat mudah dikuasai melalui market dan media massa. Mereka pun mudah dipecah-belah. Di sinilah mereka bertemu dengan fenomena Ahok. Jadi, menurut Nanik, soal Ahok ini bukan masalah agama saja, tetapi ada masalah yang lebih besar. Kalau tidak, tentu tidak akan energi seluruh pejabat negeri ini ditumpahkan hanya untuk membela Ahok. Ahok adalah representasi kekuatan para pemilik modal besar untuk menguasai perekonomian melalui politik, juga sebagai kartu truf mereka untuk Pilpres 2019. Mereka ingin, setelah Ahok jadi gubernur DKI, nanti pada tahun 2019 ia dipasangkan sebagai Wapresnya Jokowi. Mereka sangat yakin bisa berhasil. Buktinya, mereka juga bisa menjadikan Jokowi sebagai presiden. Setelah itu, nanti pada tahun 2024 Ahok didorong menjadi presiden. Tentu untuk itu semua biayanya akan sangat mahal. Namun, bila rencana itu berhasil, pasca 2024 melalui tangan Ahok, seluruh negeri ini, dari Sabang sampai Merauke, bisa mereka kuasai. Bila itu benar-benar terjadi nanti, maka kasus Singapura yang dulu didominasi Melayu melalui rekayasa politik kini dikuasai Cina akan  kembali terulang dengan skala yang lebih besar dan lebih dahsyat.

Jadi, jelaslah bahwa demokrasi memang telah menjadi alat bagi para pemilik modal, baik dari Barat (asing) maupun dari Timur (aseng) untuk menguasai  negeri-negeri Muslim. Inilah penjajahan gaya baru (neo-imperialisme). Oleh karena itu, William Blum, penulis buku America’s Deadliest Export Democracy, menyebut demokrasi adalah alat dominasi Amerika Serikat kini juga dipakai Cina atas seluruh dunia. Simpulnya, demokrasi merupakan alat untuk menguasai dunia demi kepentingan ekonomi, politik dan ideologi. Melalui demokrasi, lahirlah negara yang dikontrol oleh korporasi. Dominasi korporasi terhadap negara semakin mencengkeram setelah korporasi multinasional turut bermain. Mereka turut menentukan siapa yang menjadi pemimpin sebuah negara dan apa kebijakan negara tersebut.

Alhasil, dengan demokrasi bukan kedaulatan rakyat yang diraih, tetapi kedaulatan pemilik modal, dari teokrasi dan otokrasi yang mereka jauhi ke korporatokrasi. Semakin lama negara-negara demokrasi berjalan, semakin masuk dalam ketundukan kepada pemilik modal. Selama dua abad ini, kekuasaan pemilik modal pun semakin kuat, bahkan lintas negara. Kekuatannya tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Lihatlah, dari 100 pemegang kekayaan terbesar di dunia, 49 adalah negara, 51-nya adalah korporasi.

Jadi, bagaimana caranya menghentikan Ahok? Mestinya kemarin ia jangan dicalonkan. Kalau sudah terlanjur dicalonkan, ya jangan dipilih. Namun, andaipun Ahok kali ini tidak terpilih, masih mungkin akan lahir ’Ahok-Ahok’ baru karena sistem demokrasi membolehkan orang seperti Ahok memimpin dan para pemilik modal terus bermain. Oleh karena itu, untuk mencegah munculnya ’Ahok-Ahok’ baru pada masa mendatang, corporated democracy sistem yang memungkinkan dijadikan tunggangan pemilik modal bagi meraih kepentingan ekonomi, politik dan ideologi tidak bisa tidak harus dihentikan!

Oleh : H.M Ismail Yusanto

Sabtu, 01 April 2017

Pertanyaan Yang Sering Diajukan Missionaris

Dr Zakir Naik mengungkapkan bahwa jumlah misionaris saat ini mencapai satu juta orang. Di antara mereka, ada yang tugasnya berkeliling untuk mendangkalkan aqidah umat Islam. Salah satu caranya, memulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Pertanyaan Pertama
“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”
Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”
“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Pertanyaan Kedua
“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?”
Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali. Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”
“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”
Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu. Bahwa Isa disebutkan 25 kali.
“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Pertanyaan Ketiga
“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”
“Ya”
“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”
“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”
“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Pertanyaan Keempat
“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”
“Ya”“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”
“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)
“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”
“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)
“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Pertanyaan kelima
“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”
“Meninggal”
“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”
“Masih hidup” “Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat banyak muslim yang tidak memahami Al Quran menjadi bingung. Namun, sebenarnya semuanya hanya pertanyaan licik misionaris. Jawabannya sudah ada dalam Al Quran.

Jawaban atas Pertanyaan Misionaris

Di antara cara untuk mendangkalkan aqidah, bahkan sampai memurtadkan, misionaris menggunakan sejumlah pertanyaan. Dr Zakir Naik membeberkan lima pertanyaan utama yang biasa dipakai para misionaris. Berikut ini pertanyaan tersebut dan jawabannya:
  • Pertanyaan Pertama
“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”
Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”
“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Jawaban atas Pertanyaan Pertama:

Al Quran memang mengatakan Injil adalah kitab Allah sebagaimana Taurat juga kitab Allah. Al Quran membenarkan keduanya, sebagaimana tercantum dalam Surat Ali Imran ayat 3.

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ
“
Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil” (QS. Ali Imran: 3)

Jadi Injil dibenarkan Al Quran sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Bukan berarti harus diikuti, sebagaimana Taurat juga dibenarkan sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya tetapi tidak untuk diikuti.Bahkan seharusnya, orang yang percaya pada Taurat dan Injil, mereka mengikuti Al Quran sebagaimana orang yang berpegang pada sesuatu akan mengikuti update terbaru dari sesuatu itu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا
“
Hai orang-orang yang telah diberi Alkitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu...” (QS. An Nisa’: 47)

Selain itu, Injil yang dibenarkan Al Quran adalah Injil yang otentik. Injil pada zaman Nabi Isa sebelum diubah oleh para pemalsu. Adapun Injil yang ada sekarang, telah beberapa kali mengalami perubahan, misalnya pada Persidangan Nicea pada tahun 325 M. Pada tahun 1881 dirilis Injil King James Version (KJV) yang merevisi beberapa hal yang dianggap bertentangan. Pada tahun 1952 dirilis Revised Standard Version (RSV) atas dasar ditemukannya beberapa cacat pada KJV.

  • Pertanyaan Kedua
“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?” Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali. Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”
“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”
Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu. Bahwa Isa disebutkan 25 kali.
“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Jawaban atas Pertanyaan Kedua:

Nabi Isa ‘alaihis salam memang disebutkan dalam Al Quran lebih banyak daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, penyebutan yang lebih banyak itu tidak menunjukkan siapa yang lebih besar atau lebih agung.

Nabi Musa, bahkan disebutkan lebih banyak lagi. Nama Nabi Musa disebutkan sebanyak 124 kali dalam Al Quran. Di Surat Al Baqarah 13 kali, di Surat Ali Imran 1 kali, di Surat An Nisa’ 2 kali, di Surat Al Maidah 3 kali, di Surat Al An’am 2 kali, di Surat Al A’raf 18 kali, di Surat Yusuf 7 kali, di Surat Hud 3 kali, di Surat Ibrahim 3 kali, di Surat Al Isra’ 2 kali, di Surat Al Kahfi 2 kali, di Surat Maryam 1 kali, di Surat Thaha 16 kali, di Surat AL Anbiya’ 1 kali, di Surat Al Hajj 1 kali, di Surat Al MU’minun 2 kali, di Surat Asy Syu’ara’ 8 kali, di Surat An Naml 3 kali, di Surat Al Qashash 17 kali, di Surat AL Ankabut 1 kali, di Surat As Sajdah 1 kali, di Surat Al Ahzab 1 kali, di Surat Ash Shafat 2 kali, di Surat Ghafir 5 kali, di Surat Fushilat 1 kali, di Surat Az Zukhruf 1 kali, di Surat AL Ahqaf 2 kali, di Surat Adz Dzariyat 1 kali, di Surat An Najm 1 kali, di Surat Ash Shaf 1 kali, dan di Surat An Naziat 1 kali.Nah, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian otomatis lebih agung, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Nabi Musa lebih agung daripada Nabi Isa?
Bahkan, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian dianggap menjadi Tuhan, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Musa adalah Tuhan?

Satu hal lagi, Al Quran hampir selalu menyebut Nabi Isa lengkap dengan bin Maryam. Hanya 4 kali nama Nabi Isa disebut sendirian tanpa bin Maryam yaitu pada Surat Ali Imran ayat 52, Ali Imran ayat 55, Ali Imran ayat 59, dan Az Zukhruf ayat 63. Selebihnya selalu disebut Isa bin Maryam. Untuk menegaskan bahwa Isa adalah anak Maryam, bukan anak Tuhan sebagaimana klaim kaum Nasrani.

  • Pertanyaan Ketiga
“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”
“Ya”
“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”
“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”
“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Jawaban atas Pertanyaan Ketiga:

Nabi Isa memang tidak memiliki ayah. Namun, bukan berarti lebih hebat daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Apalagi jika kemudian dijadikan tuhan, sama sekali keliru. Sekarang saya tanya, mana yang lebih hebat, Isa yang lahir tanpa ayah atau Adam yang tanpa ayah dan tanpa ibu? Jika Isa lahir tanpa ayah kemudian dijadikan tuhan, seharusnya Adam lebih berhak untuk dijadikan tuhan karena tidak memiliki ayah dan tidak memiliki ibu.

Al Quran menjelaskan penciptaan Isa dan Adam sebagai berikut:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“
Sesungguhnya misal (penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seoang manusia), maka jadilah ia” (QS. Ali Imran: 59)

Karena lahir tanpa ayah, orang Kristen juga menyebut Yesus anak Tuhan. Dalam Yohanes 6:67-69, Yesus disebut anak tuhan oleh Petrus. Karena disebut anak tuhan, lantas dituhankan. Padahal ada banyak orang yang disebut “anak Tuhan” dalam Injil. Adam adalah anak Tuhan, Efraim adalah anak Tuhan, Ezra adalah anak Tuhan. Semua orang yang dituntun Tuhan adalah anak-anak Tuhan. Jadi anak Tuhan adalah kata yang digunakan dalam Injil yang artinya seseorang yang mengikuti ajaran Tuhan. Jika orang Kristen masih ngotot menjadikan Yesus sebagai Tuhan, carilah di Injil pernyataan Yesus yang mengatakan “Akulah Tuhan” atau “Sembahlah aku.” Niscaya tidak akan pernah ketemu.

  • Pertanyaan Keempat
“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”
“Ya”
“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”
“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)
“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”
“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)
“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Jawaban atas Pertanyaan Keempat :

Salah satu mukjizat Nabi Isa ‘alaihis salam adalah menghidupkan orang mati. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآَيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"
Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (dia Isa berkata), "Aku datang kepadamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritakan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman." (QS. Ali Imran: 49)

Namun ingat, yang menghidupkan orang mati itu adalah Allah. Nabi Isa mengakuinya sendiri. Demikian pula dalam Injil, Yesus mengakui bahwa yang menghidupkan orang mati adalah Allah. Bukan dirinya.

Sahabatku Lazarus mati, maka kembalikanlah ruh kepadanya Tuhan “. Allah memperkenankan doanya dan berfirman, “Mintalah, sesungguhnya engkau akan memperoleh apa yang engkau minta”. Ketika Yesus menyeru Lazarus agar keluar kepadanya, ia berkata, “Bapa, Aku mengucap syukur kepadamu, karena engkau telah mendengarkan aku. Aku tahu, bahwa engkau selalu mendengarkan aku” (Yohanes 11: 41-42)

Lalu besar mana mukjizat Nabi Isa dengan mukjizat Nabi Muhammad? Jika dikatakan bahwa menghidupkan orang mati adalah mukjizat terbesar Nabi Isa, ternyata dalam Injil disebutkan ada lima orang yang bisa menghidupkan orang mati. Selain Nabi Isa (Yesus), mereka adalah Nabi Ilyas (Elia), Nabi Ilyasa (Elisa), Yehezkiel (seorang nabi di kalangan Nabi Israel menurut Injil), dan Petrus.
Apakah dengan begitu, mereka semua juga dianggap sebagai Tuhan karena menurut Injil bisa menghidupkan orang mati? Sungguh lucu.

Nah, berbeda dengan Nabi-Nabi sebelumnya yang mukjizatnya kadang serupa dengan Nabi yang lain, Rasulullah Muhammad memiliki banyak mukjizat dan yang terbesar adalah Al Qur’an. Jika mukjizat yang lain sudah tidak bisa dilihat lagi bekasnya, Al Quran tetap ada hingga hari kiamat.
Dan Al Quran sendiri menantang siapapun di dunia ini untuk menandinginya, dan hingga saat ini tidak ada yang bisa menerima tantangan ini.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
“
Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah: 23-24)

Anda berani menerima tantangan ini, Pak Misionaris?

  • Pertanyaan Kelima
“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”
“Meninggal”
“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”
“Masih hidup”
“Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”
Jawaban atas Pertanyaan Kelima.

Pertanyaan ini justru akan meruntuhkan doktrin terbesar Kristen.

Dalam Al Quran memang dinyatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam tidak disalib. Yang disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa.

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (QS. An Nisa’: 157)

Jika orang Kristen mengatakan Yesus masih hidup, berarti yang disalib bukan Yesus. Sama seperti firman Allah dalam Al Quran tersebut. Namun jika Yesus tidak mati disalib, tidak ada konsep penebusan dosa sebagaimana yang dijadikan pijakan gereja saat ini. Jadi Anda meyakini yang mana? Yesus masih hidup karena tidak disalib atau Yesus mati disalib? Anda pasti akan bingung sendiri.
Adapun pertanyaan siapa yang lebih hebat, orang yang meninggal atau orang yang masih hidup, bukanlah pertanyaan yang tepat. Anda masih hidup, Nabi Musa telah meninggal. Siapa yang lebih hebat?

Khusus untuk Nabi Isa yang diangkat Allah dan nanti akan diturunkan menjelang hari kiamat, itu bukanlah kehebatan Nabi Isa atas Nabi Muhammad namun semata-mata atas kehendak Allah dalam rangka menegaskan kesalahan orang-orang yang menganggapnya sebagai Tuhan.

لَيْسَ بَيْنِى وَبَيْنَهُ نَبِىٌّ – يَعْنِى عِيسَى – وَإِنَّهُ نَازِلٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ بَيْنَ مُمَصَّرَتَيْنِ كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الإِسْلاَمِ فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ
“
Tidak ada nabi (yang hidup) antara masaku dan Isa. Sungguh, kelak ia akan turun, jika kalian melihatnya maka kenalilah. Ia adalah seorang laki-laki yang sedang (tidak tinggi dan tidak terlalu pendek), berkulit merah keputih-putihan, beliau memakai di antara dua kain berwarna sedikit kuning. Seakan rambut kepala beliau menetes meski tidak basah. Beliau akan memerangi manusia hingga mereka masuk ke dalam Islam, beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah” (HR. Abu Daud; shahih)

Artikel: Tarbiyah

Selasa, 28 Februari 2017

9 Manusia Pembuat Kerusakan Yang Dijelaskan Dalam Al-Quran

Entah ini keberuntungan atau lainnya, kejadian di Indonesia dengan munculnya 9 NAGA yang akan, sedang dan telah menginvasi NKRI, sangat mirip seperti yang digambarkan dalam ayat- ayat Allah di bawah ini: 

Qs. An-Naml ayat 48 - 53

1. Siapa mereka:

وَكَانَ فِى ٱلْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ ﴿٤٨
"
"Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan."(Q.S.27:48)

2. Mereka hendak berbuat makar: 

قَالُواْ تَقَاسَمُواْ بِٱللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِۦ مَا شَهِدۡنَا مَهۡلِكَ أَهۡلِهِۦ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿٤٩

Mereka berkata: "Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar".(Q.S.27:49)
وَمَكَرُوا۟ مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ ﴿٥٠

Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. (Q.S.27:50)

3. Bagaimana kesudahannya mereka dan beserta pengikutnya: 

فَٱنظُرْ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَٰهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٥١

Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya (Q.S.27:51)

فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةًۢ بِمَا ظَلَمُوٓا۟ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ ﴿٥٢

Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.
(Q.S.27:52)

4. Sesungguhnya Allah membela, menyelamatkan, memberi pertolongan dan kemenangan orang beriman: 

وَأَنجَيْنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ ﴿٥٣

"Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa". (Q.S.27:53)
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari firman Allah ini. Tanda-tanda pertolongan Allah sudah hadir. Mari kita renungi ayat2 ini agar kita berhati-hati dalam melangkah ke depan, sebagai peringatan.

Jumat, 30 Desember 2016

Raja Minyak dari Kuli

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya yang kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: "Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur". Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.

Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya diperusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajemen Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untukku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur ? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka?

Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan "DENDAM POSITIF". Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya.
Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.

Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja? Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu. 

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; "Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan tindakanku di masa lalu"

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: "Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku yang paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, atas izin Allah, kamulah sebab kesuksesanku hingga aku bisa seperti ini".

Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya sampai disini? Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab. Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilkan 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas. Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Tahukah kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai 2016 menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi. Terbayangkah,  hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Itulah kekuatan"DENDAM POSITIF" Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita.Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita. Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya. Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat "Dendam Positif."

Sabtu, 30 Juli 2016

Kisah Nyata Seorang Gadis Bosnia, Toleransi : Air Susu Dibalas Air Tuba


puing-puing gedung akibat perang Bosnia di Sarajevo
Suatu kisah nyata yang ditulis oleh seorang gadis Bosnia. Zlata Filipovic lahir di Sarajevo, 3 Desember 1980, ia anak tunggal dari kedua orang tua asli Muslim Sarajevo. Ayah Zlata adalah seorang pengacara. Ibunya adalah ahli kimia. Sebelum terjadi serangan Kristen Serbia terhadap kaum Muslim Bosnia Herzegovina di bulan April 1992, keluarga Zlata adalah keluarga yang berkecukupan. Sebagai keluarga Muslim, keluarga Zlata, seperti juga keluarga Muslim lainnya di Bosnia  sebelum perang tidak menampakkan identitas keislamannya secara menyolok. Yang perempuan tak memakai kerudung dan yang laki-laki tidak berpakaian seperti orang muslim. Mereka berpenampilan dan berperilaku menyerupai ataupun mirip seperti warga Eropa umumnya, setelah itu barulah di paling akhir identitas, mereka adalah Muslim.

Bosnia sebelum perang adalah negeri yang sangat damai dimana kehidupan berjalan tenang dan tenteram. Meskipun mayoritas Muslim, banyak dari orang dewasa Bosnia tidak mengerjakan sholat.
Gadis-gadisnya juga biasa pergi ke diskotik dan bar. Tidak ada hal yang mencolok antara Muslim dan non Muslim. 

Ketika Natal, hampir seluruh warga Bosnia merayakannya. Tak peduli Muslim atau bukan. Ketika Hari Raya Idul Fitri pun demikian. Anak-anak Bosnia terbiasa dengan momen-momen barat seperti valentine, April mop, tahun baru, halloween dan sejenisnya sebelum terjadinya perang. Itulah potret dari keluarga-keluarga Bosnia kebanyakan. Di Indonesia, keluarga seperti itu biasa disebut keluarga sekuler atau Islam KTP.

Namun keislaman sudah jadi cukup alasan warga Muslim Bosnia untuk dihabisi dan dibantai. Kebencian yang begitu besar di dada pemimpin-pemimpin kristen Serbia, sepanjang tahun mereka menanti-nantikan saat yang tepat menyerang Muslim Bosnia. Walaupun orang-orang muslim "sekuler" itu ikut-ikutan merayakan berbagai hari raya umat Kristen atas nama toleransi dan kerukunan antar umat beragama.

Dibawah pimpinan Slobodan Milosevic, seorang pemimpin fasis yang lebih kejam dari Adolf Hitler melancarkan perang besar-besaran demi mewujudkan ambisi gilanya mendirikan Serbia Raya. Dengan amat bernafsu, Milosevic memerintahkan tentaranya untuk menghabisi Muslim Bosnia secara genosida dengan cara apapun, termasuk pemerkosaan sistematis. Muslim Bosnia yang tadinya tidak begitu mempedulikan nilai-nilai Islam terhenyak kaget bukan kepalang. Teman, saudara dan anggota keluarga yang beragama lain yang tadinya akrab, natalan bersama, valentinan bersama dan sebagainya kini berbalik menyerang dan membunuhi mereka. Alasannya hanya satu : karena mereka Muslim, seolah-olah Muslim adalah dosa yang tak terampuni dan harus di basmi.

Orang-orang Bosnia dengan cepat mereka sadar pada kondisi yang sedemikian terlambat, bahwa mereka adalah Muslim. Pembersihan etnis Muslim Bosnia membuat mereka kembali kepada nilai-nilai Islam yang hakiki. 

Beruntunglah mereka yang segera sadar, kasihan dan celakalah mereka yang telah terbunuh dalam kondisi menyerupai kaum kafir, mereka akan dihukumi sebagaimana orang kafir (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031).

Ditengah-tengah puing bangunan yang hancur, desingan peluru yang menggema dan ledakan mortir, dan kepiluan tangisan korban pemerkosaan. Muslim Bosnia kembali mendekap erat identitas nenek moyang mereka selama ini. Yang perempuan kembali menggunakan kerudung dan para lelaki sambil menenteng senjata untuk bertahan dan mulai kembali sholat, adzan mulai bergema di sela-sela gedung yang roboh. Kitab suci Alquran yang telah lama tersimpan di lemari-lemari dibuka kembali.

Nermina Jasarevic, aktivis relief international Bosnia berkeliling ke negara-negara Muslim guna menggalang solidaritas Bosnia menyatakan, " berpuluh-puluh tahun kami hidup berdampingan dengan saudara-saudara kami yang berlainan agama, kami sangat toleran tapi kebaikan kami dibalas begitu pahit, mudah-mudahan ini jadi pelajaran bagi kami untuk tidak pernah meninggalkan islam". Dengan sedih yang mendalam, Muslimah Bosnia itu berpesan ," Semoga apa yang kami alami, tidak terjadi oleh bangsa-bangsa muslim lainnya. Biarlah bosnia menjadi hikmah bagi kita semua." Demikianlah sejarah yang hampir sama sebagaimana Islam bisa dihabisi di negara Islam Spanyol (Andalusia).

Dari kisah diatas kita tahu bagaimana keadaan sekeliling kita di Indonesia yang mayoritas muslim, hendaknya kita saling mengingatkan apabila ada saudara/saudari kita yang mulai jauh dari keislamannya untuk bertaubat, karena hal itulah yang menjadi awal dari musibah yang mengerikan.


Selasa, 12 Juli 2016

Pahala Sedekah Yang Tak Berhenti Mengalir

 

Suatu hari, di Madinah, tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi, ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah kering sepanjang tahun.  Sumur itu dikenal dengan nama Sumur Ruma (The Well of Ruma) karena dimiliki seorang Yahudi bernama Ruma. 

Sang Yahudi menjual air kepada penduduk Madinah, dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Di waktu-waktu tertentu sang Yahudi menaikkan harga airnya seenaknya, dan rakyat Medinah pun terpaksa harus tetap membelinya karena hanya sumur inilah yang tidak pernah kering.
Melihat kenyataan ini, Rasulullah SAW berkata, "kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah Surga". Seorang sahabat nabi bernama Usman bin Affan RA mendekati sang Yahudi. Usman menawarkan untuk membeli sumurnya.  Tentu saja Ruma sang Yahudi menolak. Ini adalah bisnisnya, dan ia mendapat banyak uang dari bisnisnya. 

Tetapi Usman bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi ia juga negosiator ulung. Ia bilang kepada Ruma, "aku akan membeli setengah dari sumur mu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya"  Melalui negosiasi yang sangat ketat, akhirnya sang Yahudi mau menjual sumurnya senilai 1 juta  Dirham dan memberikan hak pemasaran 50% kepada Usman bin Affan. 

Apa yang terjadi setelahnya membuat sang Yahudi merasa keki. Ternyata Usman menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Pendudukpun mengambil air sepuas-puasnya sehingga hari kesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma sang Yahudi. Merasa kalah, sang Yahudi akhirnya menyerah, ia meminta sang Usman untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya. Tentu saja  Usman harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya. 

Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman, atau The Well of Usman. Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini. Kurmanya dieksport ke berbagai negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan. Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan. Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang di saat ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun (atau setara 200 Milyar pertahun.

Sang Yahudi tidak akan penah menang. Kenapa? Karena visinya terlalu dangkal. Ia hanya hidup untuk masa kini, masa ia ada di dunia. Sedangkan visi dari Usman Bin Affan  adalah jauh kedepan. Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan. Sebuah shadaqah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati. MasyaAllah. 

Tetaplah jaga sedekah kita kepada sesama, karena sedekah kita akan kembali kepada kita..

(Dari berbagai sumber)

Hashashin, Pengkhianatan Syiah Dalam Perang Salib

 

Sejarah perseteruan Islam dan Kristen, baik dalam ranah teologis-ideologis maupun konflik fisik selalu aktual untuk dikaji. Terutama setelah berakhirnya perang dingin Amerika dan Rusia. Dalam tesis Huntington, perseteruan Islam-Keriten adalah ‘The Clash of Civilization’ alias benturan peradaban.

Secara khusus, umat Islam menghadapi dua masalah utama, dari luar meliputi gerakan kristenisasi dan liberalisasi sedang dari dalam dihantam dengan persoalan konflik antara sesama. Selain banyaknya pengkhianat umat yang rela berkolaborasi dengan musuh untuk melemahkan dan merawat kekacauan serta menjauhkan umat dalam bingkai akidah yang benar lagi selamat: Ahlussunnah wal Jamaah.

Demi mengais pelajaran dari sejarah, penulis mencoba kembali mengangkat peristiwa paling fenomenal dalam perjalanan umat Islam dan perseteruannya dengan Kristen serta pengkhianatan penganut Syiah untuk menghancurkan umat Islam dari dalam.

Perang Salib

Kita mulai dari Pertempuran Manziket pada tahun 1071 Masehi, ketika Turki Seljuk menghancurkan Bizantium lalu menawan Kaisarnya, menggemparkan dunia Barat dan Timur. Selanjutnya, memicu semacam pesan-pesan dari Bizantium, kaisar tertawan seakan menyeru para kesatria Barat untuk datang membantu mereka atas nama kesatuan Kristen.

Akhirnya, para patriark Konstantinopel mengirim pesan mendesak kepada saingan beratnya di Barat, sang paus, memperingatkan bahwa jika Konstantinopel jatuh, pengikut Muhammad yang ‘kafir’ itu akan langsung datang membanjiri kota suci Roma. Ancaman.

Masalah lain, ketika para peziarah (hujjaj) dari Barat yang datang ke Tanah Suci mereka, Yerussalem di bawah kendali pemerintahan Seljuk yang baru saja direbut dari kekuasaan Fathimiyah yang berpusat di Mesir. Seljuk yang berasal dari bangsa Turki ini, memperlakukan para peziarah secara tidak sopan dan terus-menerus menggannggu dan menghalangi para hujjaj Kristen itu, walaupun tidak disiksa, seperti dipukili dan dibunuh, namun pelecehan dan penghinaan kadang lebih menyesakkan.

Sekembalinya ke kampung halaman mereka di Barat, para peziarah menceritakan keadaan dan pengalaman mereka. Mengeluh tentang penghinaan yang ditumpahkan pada mereka oleh orang kafir di tanah suci.

Akibatnya, tahun 1095, Paus Urbanus II terpaksa turun tangan, menyampaikan pidato terbuka berapi-api di luar sebuah biara di Prancis yang dinamai ‘Claremont’. Di sana, ia mengatakan pada majelis bangsawan Prancis, Jerman, dan Italia bahwa dunia Kristen berada dalam ancaman. Ia menjelaskan secara detail penghinaan yang diterima para peziarah di Tanah Suci dan menyerukan orang beriman untuk membantu saudara-saudara mereka mengusir orang Turki dari Yerussalem.

Paus Urban menyarankan bahwa mereka yang menuju ke Timur harus mengenakan salib berbentuk kotak merah sebagai lambang pencarian mereka. Ekspedisi harus disebut “croisade” dari “croix” bahasa Prancis untuk “salib”, dan dari inilah berasalnya nama yang dibekukan pada sejarawan untuk segenap upaya itu: Crusades atau Perang Salib, (Tamim Ansary, 2009).

Dengan wewenang yang ada padanya, Paus memutuskan bahwa siapa pun yang berangkat ke Yerussalem untuk membunuh kaum kafir muslim akan menerima pengampunan atas dosa-dosanya. Menggiurkan memang. “Pergilan ke Timur anak muda, kata Paus. Tunjukkan diri kalian yang sejati sebagai mesin pembunuh mengagumkan yang untuk itulah kalian telah dilatih masyarakat kalian, penuhi sakumu dengan emas tanpa rasa bersalah, rebutlan tanah yang jadi hak kalian sejak lahir, dan sebagai akibat dari itu semua, masuklah ke surga setelah kalian mati!” Begitu mantra sang Paus.

Tentara ‘salib’ itu pun berduyung-duyung datang ke Timur, berziarah dan untuk merebut Yerussalem, serta merampas hak orang Islam yang kafir itu, dan jika bisa membantai mereka sehabis-habisnya.

Pemerintah Seljuk yang menguasai Yerussalem, Kilij Arslan, suatu hari di tahun 1096 mendapat info tentang adanya penyusup yang mereka anggap tentara bayaran dari Balkan, dan menyebut mereka sebagai “Al-Ifranj” orang “Franj” atau ditulis “Frank”. Laporan yang sampai secara detail bahwa, para Franj berpakaian aneh, walaupun ada yang berpakaian seperti tentara, tapi hampir semuanya mengenakan salib berbentuk sepetak kain merah yang dijahitkan di pakaian mereka. Konyolnya, tantara salib itu terang-terangan mengatakan bahwa kedatangan mereka untuk menaklukkan Yerussalem yang didahului dengan menaklukkan Nicea, Arslam melacak rute yang telah dan akan mereka lalui, menyiapkan penyergapan, lalu, menghancurkan, menyapu bersih seperti semut, membunuh banyak, menangkap dan menawan lainnya, mengejar sisanya, sampai segelintir kembali ke Bizantium, membuat laporan.

Namun, Arslan tidak mengerti, jika pasukan yang ia hancurkan seperti semut itu hanyalah rekrutan dari semua golongan lapisan masyarakat, petani, tukang, pedagang, bahkan wanita dan anak-anak. Mereka bukan tentara profesional. Mayoritas adalah para pemuda yang putus asa, tidak tahu mahu kerja apa, karena lahan pertanian telah direbut golongan bangsawan penindas. Gelombang pertama pasukan salib adalah rintisan dari rangkaian gerakan penyerangan yang akan menngguncang kaum muslimin selama dua abad ke depan, dan akan menjadi dendam sejarah bagi umat Kristen yang apinya tidak pernah padam sampai sekarang. Crusade!

Tragikomedi

 
Terbukti, tahun berikutnya, 1097 ketika Kilij Arslan mendengar bahwa lebih banyak lagi tentara Franj akan tiba, ia menepis ancaman itu sambil menepuk dada. Dia tidak paham bahwa Tentara Salib gelombang kedua ini benar-benar kesatria pemanah yang dipimpin oleh komandan militer tangguh dan berpengalaman tempur dari negeri-negeri yang menjadikan perang sebagai olah raga di Eropa. Pertempuran kedua pasukan laksana perang penunggang kuda berpakaian ringan menembakkan panah kepada tank lapis baja kesatria abad pertengahan Eropa Barat. Para kesatria tangguh dari pasukan Salib Franj benar-bener memorak-moranda pasukan Islam berdarah Turki itu, merangsek maju tanpa dapat dihentikan. Merebut kota kekuasaan Arslan lalu memaksa penguasanya lari ke salah satu kerabatnya untuk berlindung. Pasukan salib menuju Edessa, selebihnya ke pantai Mediterania menuju Antiokhia.

Raja Antiokhia mengirimkan permohonan pada raja Damaskus, namanya Daquq. Daquq, ingin membantu, tapi cemas tentang kakaknya Ridwan, raja Aleppo yang akan menyerang dan menyambar Damaskus jika ia meninggalkan kotanya. Penguasa Mosul setuju untuk membantu, tapi dia juga sedang sibuk berperang dengan orang lain di sepanjang jalan, dan ketika akhirnya tiba terlambat, dia terlibat pertempuran dengan Daquq yang juga tiba terlambat, kedua pasukan muslim itu akhirnya pulang dengan tangan hampa.

Dalam sejarah Islam, inilah Perang Salib untuk kali pertama. Membacanya, laksana sebuah tragikomedi persaingan internal dimainkan di satu kota dengan kota lainnya. Ketika Antiokhia jatuh di tangan pasukan salib, para kesatria melakukan balas dendam atas sedikit perlawanan dari kota itu dengan pembantaian dan pembunuhan secara acak, lalu terus bergerak ke selatan, menuju sebuah kota bernama Ma’ara.

Mendengar apa yang terjadi di Nicea dan Antiokhia, secara psikologis penduduk negeri Ma’ara sudah kalah sebelum bertarung. Kesatria salib mengepung mereka, sampai akhrinya terjadi negosiasi dengan pemimpin Ma’ara dan pasukan salib: kami akan masuk ke kotamu tanpa merusak apa pun, dan membiarkan kalian bebas, tidak ada pertumpahan darah walau setetas, demikian janji para ksatria. Dan, pihak Ma’ara setuju, membukakan mereka pintu gerbang kota.

Apa yang terjadi, terjadilah. Begitu tentara salib masuk kota dengan mulusnya, mereka bukan hanya melakukan pembantaian. Mengamuk secara menakutkan, bahkan sampai merebus orang muslim dewasa untuk sup dan menusuk anak-anak sebagai sate, memanggang mereka di atas bara api, lalu menyantap.

Albert Aix yang ikut dalam penaklukan Ma’ara, sebagaimana dinarasikan Tamin Ansary, menulis, Pasukan kami bukan hanya tidak segan-segan memakan bangkai orang Turki dan Saracen, mereka juga memakan anjing, (Tamim Ansary, 2009).

Pernyataan ini dengan jujur menegaskan bahwa pasukan perang salib selain biadab juga kanibal, dan memiliki selera menyantap orang Turki muslim lebih baik daripada memakan anjing.

Ketika tentara salib berpesta-pora dari satu negeri ke negeri lainnya, menebar teror dan muslihat, Wazir Mesir, di bawah Dinasti Fathimiyah, Afdhal, mengirim surat pada kaisar Bizantium mengucapkan “Selamat atas kesuksesan pasukan salib” dan mengharapkan mereka jadi aliansi untuk menjadikan pasukan salib jauh lebih berhasil. Memang, selama ini, Seljuk dan Abbasiyah yang Sunni selalu tidak akur dengan Fathimiyah yang Syiah, dan kedatangan pasukan salib yang menguasai negeri-negeri Sunni adalah laksana hadiah dan bala bantuan bagi Dinasti Syiah Fathimiyah.

Karena itu, Dinasti Fathimiyah mencoba membujuk kaum salibis, bahwa ia ingin Yerussalem di bawah kendalinya, dan pasukan salib dapat masuk ke kota suci itu sebagai tamu terhormat. Tapi, pasukan kristen itu menjawab,  bahwa mereka tidak butuh perlindungan, untuk Yerussalem, mereka akan datang dengan ‘pedang terhunus’.

Pasukan salib, datang melintasi kota-kota kosong sebelum sampai ke Yerussalem. Para penduduk lari bersembunyi ketika mereka lewat. Sesampai di kota suci, Yerussalem, mereka terkendala dengan dinding kota yang terkunci dengan tembok begitu perkasa dan tinggi. Pengepungan terjadi selama empat puluh hari, lalu mencoba menggunakan taktik seperti sebelum masuk Ma’ara. Buka pintu gerbang, tak seorang pun akan dirugikan, kata mereka pada pemerintah Yerussalem.

Setelah masuk kota suci dambaan mereka, pasukan salib terlibat pembantaian, pertumpahan darah begitu tragis, dan drastis, dengan tumpukan kepala, tangan, dan kaki di sepanjang jalan. Mereka menumpahkan darah ‘orang kafir’ hingga sampai selutut. Membunuh sedikitnya 70 ribu orang muslim dan juga Yahudi dalam jangka hanya dua hari. Awalnya orang Yahudi mencari aman dengan mengungsi ke sinagoge utama mereka yang besar, tetapi ketika kumpul di sana untuk berdoa dan keselamatan, tentara salib menutup semua pintu dan jendela, lalu membakar bangunan itu menghanguskan hampir seluruh warga Yahudi Yerussalem dalam sekali sambar.

Penduduk asli yang Kristen pun tidak benasib begitu baik. Ini karena tak satu pun dari mereka sebagai jemaat Gereja Roma, melainkan berasal dari gereja Timur seperti Yunani, Armenia, Koptik, atau Nestorian. Pasukan Salib Franj memandang mereka sebagai sempalan dan ahli bid’ah akidah juga ibadah, dan sebagaimana mereka pandang, bid’ah kadang lebih buruk daripada kafir. Akhirnya, Franj menyita harta milik penganut Kristen Timur ini lalu mengirim mereka ke pengasingan.

Pencaplokan Yerussalem menjadi titik penting dalam invasi Franj. Pasukan salib yang menang lalu memproklamirkan kerajaan Yerussalem tempat yang menduduki peringkat tertinggi di antara keempat negara lebih kecil yang berhasil direbut tentara salib Franj, lainnya adalah kerajaan Antiokhia, Kabupaten Edesse, dan Tripoli.

Itulah keempat negeri yang menjadi kerajaan tentara Salib, berkembang dalam kemuraman selama beberapa dekade. Kedua belah pihak terus mengalami bentrokan secara sporadis selama beberapa dekade, Salibis Franj kerap memenangkan pertempuran melawan kaum muslimin, tapi kerap pula menelam kekalahan. Memukul umat Islam, atau terkena pukulan, dan mereka juga kerap bertengkar antar sesama, sebagaimana kaum muslimin. Bahkan, kadang terpaksa akur dengan mengadakan kesepakatan bersama pengkhianat dari dari kedua belah pihak. Islam dan Kristen.

Dalam satu pertempuran Raja Tancred yang Kristen dari Antiokhia berperang melawan amir muslim Jawali dari Mosul. Sepertiga dari pasukan Tancred saat itu terdiri dari prajurit Aleppo, yang bersekutu dengan Kaum Hashasin dan memiliki hubungan erat dengan para tentara salib.

Hashashin-Syiah
 
Namun, tidak semua perang dan kekacauan antarsesama umat Nabi Muhammad berlangsung secara spontan, sebab, ada yang bermain di belakang layar, menjadi skenario dan produser, supaya umat terus menerus berada dalam kubang perselisihan.

Hashashin, sibuk di belakang layar, menjadi aktor dan produser kenistaan. Misalnya, tepat sebelum Perang Salib dimulai, Hassan Sabbah telah mendirikan basis operasi kedua di Suriah, dikelolah oleh bawahan yang kelak dijuluki oleh Tentara Salib sebagai Si Tua dari Gunung (the old man of the mountain). Pada saat perang berlangsung hampir semua yang bukan Hashashin benci pada Hashashin, setiap kekuatan di negeri itu berusaha memburu mereka, musuh kaum Hashashin, termasuk Dinasti Fathimiyah yang berpaham Syiah, dan tentu saja negeri-negeri Sunni, seperti Turki Seljuk, dan Khalifah Abbasiyah. Pada saat yang sama, tentara Salib pun berperang melawan seluruh musuh Hashashin. Maka secara de facto Hashashin dan Tentara Salib Franj memiliki himpunan musuh yang sama, sehingga mereka bersekutu, sebuah kolaborasi yang sempurna.

Hashashin yang lebih populer di Barat dengan sebutan “Assassin” adalah salah satu cabang dari Syi’ah Ismailiyah. Mereka mendirikan beberapa pemukiman di Suriah, Iran, Irak, dan Lebanon. Mereka mengirim orang yang berdedikasi untuk membunuh pemimpin penting Sunni, yang dianggap mereka sebagai “kaum kafir perebut takhta”, (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Hashasin). Tentu saja sangat keliru jika menyederhanakan Hashashin hanya sekadar ‘Pembunuh Bayaran’ seperti dimaknai dalam kamus Barat.

Mereka adalah kawanan teroris, mafia, atau bandit dengan jumlah pasukan memadai, terorganisir dengan rapi, terlatih dengan apik, memiliki kemampuan membunuh siapa dan apa pun yang dapat dilihat mata kepala. Teroris karena kerjaan mereka selalu menebarkan teror di seluruh penjuru negeri,  sebagai mafia, mereka sangat oportunis, dapat bersekutu atau bekerja dengan siapa pun yang penting menguntungkan, termasuk jin dan iblis, dan sebagai bandit karena tidak ada hukum yang ia taati kecuali hukum sesuai dengan kepentingan, dan jika menguntungkan mereka.  Namun, lebih dari semua itu, Hashasin, didorong oleh sebuah ideologi Syiah, memandang, bahwa umat Islam mana pun, selain dari sekte mereka sesat dan harus ditumpas. Maka, kolaborasi dengan para kesatria Salib adalah sebuah kesempurnaan untuk menghancurkan umat. Hashashin dari dalam, ldari luar oleh Salibis Franj.

Tidak ada yang tahu secara pasti, kapan Hashashin ini muncul, namun menurut Syamsuddin Arif, yang pakar dalam segala aspek terkait Ibnu Sina (980-1037 M) menyebut bahwa Ayah Ibn Sina yang menjabat sebagai gubernur Bukhara di bawah Khalifah Al-Amir Nur bin Mansur, kerap menyetor upeti sebagai ‘jatah preman’ pada kawanan Hashashin. Lalu di sinilah muncul persepsi liar dari kalangan Syiah bahwa Ibnu Sina adalah penganut Syiah. Padahal tidak ada bukti dalam bentuk apa pun, jika ia menganut aliran menyesatkan tersebut, andai itu benar, maka pasti dapat dilacak dalam karya tulisnya yang mencapai 450 buah. Hanya saja, didapati beberapa pandangannya dalam ranah akidah dipandang menyimpang, namun tidak mengeluarkan dirinya dari Ahlussunnah apalagi sebagai muslim.

Dalam situasi yang kacau balau di negeri-negeri muslim. Seruang jihad di kumandangkan beberapa ulama dan pemimpin yang paham akan situasi.   Menggelorakan bahwa perang ini didorong atas nama agama, Yerussalem direbut, dan umat Islam dari satu negeri ke negeri yang lain dibantai. Tapi, sebagian besar umat melihat bahwa jihad adalah hal aneh, kata itu hanya ada dalam kitab dan diktat, bukan dalam realisasi dengan mengangkat senjata atau dalam arti qital. Tidak ada jihad, karena selama ini perang yang terjadi adalah antarsesama negara atau kelompok muslim. Selain, hanya sekadar untuk mendapat hadiah harta rampasan, dan kekuasaan dalam daerah baru yang tertaklukkan. Perang, saat itu bagi umat Islam semacam perpecahan dan kekacauan yang terus terawat.

Selama abad pertama invasi Pasukan Salib Franj, setiap kali kaum muslim mulai bergerak ke aras persatuan, Hashashin membunuh para tokoh kunci, yang memantik gejolak baru. Misalnya, pada tahun 1113 M, Gubernur Mosul mengadakan konferensi para pemimpin muslim, untuk mengatur serangan bersatu melawan Franj. Akan tetapi, tepat sebelum pertemuan dimulai, seorang pengemis mendekati gubernur dalam perjalanan ke masjid, pura-pura meminta sedekah, lalu tiba-tiba menikamkan sebilah pisau di dadanya dan, serangan bersatu itu pun pupus.

Sebelas tahun kemudian, 1124, agen Hashashin membunuh ulama paling berpengaruh kedua yang menyerukan jihad. Tahun berikutnya, sekelompok yang diduga sufi menyerang dan membunuh khatib yang selalu menyulut api jihad. Tahun 1126, Hashashin kembali membunuh Al-Borski, raja tangguh Aleppo dan Mosul yang, dengan menyatukan kedua kota besar itu, dapat membentuk benih sebuah negara muslim bersatu di Suriah. Baroski bahkan telah berjaga-jaga dengan mengenakan baju besi di bawah pakaiannya, karena ia tahu, Hashashin mengintai. Tetapi saat beberapa sufi gadungan menyerangnya, salah satu dari mereka berteriak, Sasar Kepalanya! Mereka tahu tentang baju besinya. Baroski pun tewas. Putranya naik tahta, seperti ayahnya, ia kambali menyerukan persatuan untuk melawan pasukan Salib, namun, Hashashin juga membunuhnya, lalu empat bersaudara mengklaim tahta kembali membenamkan Suriah dalam kubang perang antarasesama saudara.

Sejak awal perang salib, pembunuhan demi pembunuhan terhadap tokoh-tokoh kunci berpengaruh kerap terjadi, walaupun beberapa peristiwa tidak terbukti sebagai perbuatan Hashashin, namun karena ibarat sinetron yang diputar berulang-ulang, pembedanya hanya pada setting waktu dan sasaran, namun aktornya cenderung itu-itu saja, maka masyarakat lambat-laun akan tahu dan mengarah pada satu muara: Teroris Hashashin.

Gelombang yang akhirnya mulai menerpa dan mengancam para kesatria Salib Franj adalah serentetan pemimpin muslim yang masing-masing lebih besar dari yang pernah ada. Yang pertama di antara mereka adalah Jenderal Zangi dari Turki, yang memerintah Mosul, lalu mengambil Aleppo, dan kemudian menyerap kota-kota lainnya yang dikuasai Franj, dan pada akhirnya membuat sebuah teritorial yang ia sebut Suriah Bersatu, Zangi adalah rajanya. Inilah kebangkitan awal sejak lima puluh tahun, sebuah negara Islam lebih besar daripada satu kota dan sekitarnya di Syam.

Pasukan Zangi dihormati karena dia sosok prajurit arketipal. Hidup apa adanya sebagaimana rakyatnya, makan apa yang mereka makan, dan tidak angkuh. Dia lalu menebar semacam propaganda bahwa umat Islam memiliki musuh bersama (common enemy) lalu mengatur kampanye melawan musuh itu. Pertama, ia menyaring habis seluruh kelemahan mesinnya dengan melenyapkan para penjilat dari istana serta para pelacur dari pasukannya, dan terpenting, dia membangun jaringan informan propagandis di seluruh Suriah untuk memastikan semua gubernurnya tetap sejalan.

Tahun 1144, Sang Jenderal menaklukkan Edessa, yang menahbis dirinya menjadi pahlawan bagi dunia muslim. Edessa bukanlah kota terbesar di Timur, tapi merupakan kota pertama yang cukup besar yang berhasil direbut kembali kaum muslimin dari pasukan Salib, dan dengan merebut Edessa berarti merampas salah satu dari empat ‘Kerajaan Tentara Salib’, dan gelombang harapan mulai menjalar ke segenap pelosok Syam, di lain pihak, gelombang kecemasan telah menerpa Eropa Barat, lalu menginspirasi para raja dan pemuka agama untuk melancarkan: perang salib kedua.

Zangi, mendorong dan mendukung para khatib di masjid-masjid untuk mengobarkan semangat jihad sebagai alat mempersatukan umat, dan itu sangat efektif. Sayangnya, Sang Jenderal juga memiliki kekurangan secara internal-personal, karena ia seorang pemabuk, dan penengkar bermulut kotor, yang juga ditularkan pada anak buahnya, dan tentu saja tidak disenangi para ulama, karena tidak layak memimpin pasukan jihad.

Namun teori Ibnu Taimiyah benar, bahwa pemimpin fasik kadang bisa diterimah jika memiliki ketangguhan dalam mengatur bawahan dan menyusun strategi. Memakmurkan rakyat dan mengenyahkan musuh. Kadang lebih bisa diterima daripada pemimpin salih secara individu, namun lemah dalam manajerial dan tidak paham strategi membangun bangsa, apalagi melawan musuh, lalu dikelilingi para penjilat dan pelacur.

Jasa Jenderal Zangi adalah, bahwa ia telah menciptakan sebuah gerakan anti-Salibis yang dapat dilanjutkan oleh penguasa lain yang saleh, dan maju ke depan sebagai panglima jihad. Ia telah membangun kanal untuk diairi generasi mendatang.

Itulah kenyataannya, putra penerus tahtanya, Nuruddin Zangi namanya, memiliki sifat-sifat yang tidak dimilik ayahnya. Meskipun memiliki energi kemiliteran sama dengan ayahnya, Nuruddin berperawakan lebih halus, diplomatik, dan saleh. Dia menyerukan umat Islam untuk bersatu berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal-Jamaah karena itu, sejarawan Barat menjulukinya sebagai pemimpin dogmatis, dan menjadikan jihad sebagai salah satu tujuan dalam beragama. Ia telah menghidupkan citra tentang orang adil dan saleh yang berjuang bukan untuk ego, atau kekayaan, kekuasaan, tapi untuk umat. Dan, telah membangunkan umat dari mimpi panjang, mengembalikan kesadaran mereka, dan hebatnya, ia dapat memelihara semangat jihad yang dapat digunakan penguasa lain yang lebih besar dan mampu menyusun kemenangan politik dalam arti sesungguhnya. Dalam kisahnya, Nuruddin Zangi, pernah bermimpi berkali-kali, Nabi minta tolong padanya, kenyataannya, ada orang Yahudi sedang menggali kuburan Nabi untuk mencuri jasadnya.

Sang Penyelamat

Pemimpin dan penguasa yang datang itu adalah Salah Al-Din Yusuf ibn Ayub, orang Barat menyebutnya, Saladin, dan umat Islam mengenalnya sebagai Salahuddin Al-Ayyubi. Ia adalah keponakan salah satu jenderal tinggi Nuruddin.

Pada tahun 1163, Nuruddin mengirim paman Salahuddin untuk menaklukkan Mesir di bawah Dinasti Fathimiyah, ia memang Ahlussunnah yang paham akan bahaya dan kesesatan Syiah. Sekaligus untuk jaga-jaga jangan sampai direbut oleh tentara Salib, dan jenderal itu membawa serta ponakannya. Sang Jenderal berhasil merebut Mesir, dan tak begitu lama kemudian, ia pun wafat, meninggalkan Salahuddin sebagai pewaris tanggungjawab. Secara resmi, Mesir masih milik Dinasti Fathimiyah, namun kekuasaan sesungguhnya milik wazirnya, dan pengadilan Mesir dengan senang hati menerima Salahuddin sebagai wazir baru pengganti sang paman, terutama karena ia masih muda, baru berumur 29 tahun, dan para pembesar istana berpikir bahwa usia muda dan minimnya pengalaman akan membuat ia mudah diperalat.

Salahuddin, di bawah bayang-bayang pamannya, hanya sedikit menunjukkan tanda-tanda kebesarannya. Berwatak diam dan bersahaja, tidak menunjukkan kecendrungan untuk berperang apalagi ambisi sebagai penguasa. Segera setelah mengambil alih Mesir, Nuruddin memerintahkan untuk menghapus secara total Dinasti Fathimiyah. Di saat yang sama, Pemimpin Dinasti yang Syiah itu, adalah seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tahun namun sakit-sakitan. Ia benar-benar tidak memerintah, hanya sekadar boneka para pembesar istana. Salahuddin menunaikan perintah Nuruddin secara lembut namun terencana. Menggulingkan Khalifah Fathimiyah secara perlahan, sehingga Sang Khalifah bahkan tidak mengetahui akan hal itu. Suatu Jumat, Salahuddin hanya mengatur agar seorang warga negara berdiri di atas mimbar membaca khutbah atas nama Khalifah Abbsiyah di Bagdad. Tak ada seorang pun yang protes, dan tindakan penggulingan yang lembut namun jitu itu, tuntas. Sedang, pemimpin dinasti yang muda dan sakit-sakitan itu pun kemudian wafat tanpa ia sadar bahwa dirinya telah menjadi warga biasa dan dinastinya talah lenyap. Lalu, menjadikan Salahuddin sebagai penguasa tunggal Mesir.

Atasannya di Suriah, Nuruddin selalu mengatur pertemuan dengan sang bawahan, Salahuddin. Namun, bawahannya selalu ada alasan untuk tidak bertemu dan mengelak. Dia menyadari, jika bertemu dengan atasan akan terjadi pemutusan hubungan, karena kehebatannya sudah melebihi atasannya, namun, dia berfikir, senior tidak mesti diperlakukan tidak sopan. Ia bertahan, bahwa dirinya adalah bawahan Nuruddin sampai atasannya meninggal dunia. Kemudian, Salahuddin menyatakan dirinya adalah penguasa tunggal Mesir dan Suriah. Beberapa pengikut Nuruddin mengutuknya, dan menyebutnya pemula yang sombong dan tak tahu diri, tetapi mereka berenang melawan arus sejarah. Sang Penyelamat telah tiba.

Salahuddin, berperawakan kecil, tampangnya seperti orang termenung, sorot matanya melangkolis. Tetapi ketika tersenyum, dia bisa memecahkan keheningan ruangan. Sangat dermawan, sampai-sampai memiskinkan dirinya sendiri, rendah hati terhadap yang lemah, tapi gagah di hadapan orang kuat. Tak ada yang dapat mengintimidasi dirinya, namun, kharismanya dapat mengintimidasi seluruh musuhnya. Sebagai seorang pemimpin militer, dia terbilang kawakan, tapi tidak istimewa. Kukuasaan dan kekuatannya, hakikatnya terletak pada kenyataan bahwa rakyat amat mencintainya. Kehidupan pribadinya amat zuhud, dan kerasnya terhadap diri sendiri, sebagaimana atasannya dahulu, Nuruddin, namun tidak menuntut orang lain atau bawahannya untuk ikut seperti dirinya. Para pengkhianat dan penjilat yang datang kepadanya justru heran, karena diberi hadiah atas kelakuannya. Dan inilah manusia yang pernah berkata, Bagiku, uang dan debu tidak ada bedanya!

Hashashin berusaha keras untuk membunuh Salahuddin, sebagaimana yang kerap mereka lakukan pada penguasa sebelumnya. Dua kali mereka menerobos langsung ke kamar tidurnya ketika ia sedang terlelap. Sekali mereka melukainya di kepala tetapi dia sedang mengenakan penyangga leher dari bahan kulit dan helm logam di bawah serbannya. Setelah dua percobaan pembunuhan, Salahuddin memutuskan untuk menumpas habis Hashashin. Dia merencanakan pengepungan benteng mereka di Suriah.

Apa yang terjadi terjadilah. Hashasin yang digambarkan sebagai teroris, mafia, dan bandit yang bagitu besar pengaruhnya bagi imajinasi publik, dan setelah membuat dua kali percobaan pembunuhan pada Salahuddin, justru menggali lobang kuburan sendiri, dan menjadikan Salahuddin laksana Hang Tuah dalam sejarah heroik dunia Melayu-Indonesia. Tak terkalahkan!

Salahuddin, tidak pernah mengumumkan bagaimana memotong jantung kekuatan dan kehidupan Hashashin, yang jelas, setalah pengepungan itu, Hashashin benar-benar telah disapu lalu dimasukkan dalam kuburan galian mereka sendiri. Walaupun, masih ada yang tersisa, itu hanya sel-sel kecilnya yang berserakan di mana-mana, dan tidak pernah terdengar lagi gaungnya. Walaupun sejarah pernah mencatat bahwa Hashashin pernah berusaha membunuh Hulagu pada tahun 1226 M, namun dia gagal, kemudian kisah Hashashin lenyap sama sekali.

Para sejarawan mencatat kemenangan demi kemenangan diraih Salahuddin dalam berbagai peperangan. Tapi, sesungguhnya kemenangan itu bermula ketika ia berhasil menyapu bersih para pentolah Hashashin-Syiah, dan perlahan namun pasti, mengunci mereka dalam ‘tong sampah sejarah’.

Salahuddin bergerak dengan hati-hati, menyatukan umat dan melunakkan musuh-musuhnya. Dia tipikal penguasa yang suka, jika musuhnya kalah sebelum perang. Dan, perang hanya meledak jika semua jalan damai telah sumbat.  Lihatlah, dia berusaha merebut kembali semua apa yang pernah dicaplok tentara salib tanpa melalui pertumpahan darah secara sengit, walau ia mampu memanggang  musuhnya dalam perapian satu persatu:  cukup dengan pengepungan, embargo ekonomi, dan negosiasi.

Tahun 1187, ketika pindah ke Yerussalem, dia memulai dengan mengirim semacam proposal perdamaian berisi ‘pengusiran’ agar Tentara Salib Franj segera angkat kaki dari kota suci Yerussalem dengan damai. Sebagai konpensasi, orang Kristen yang ingin ikut dapat membawa harta benda milik mereka untuk kembali ke Eropa. Dan, orang Kristen yang ingin tetap di sana boleh-boleh saja, dan dapat mengamalkan agama mereka tanpa gangguan. Gereja akan dilindungi dan, para peziarah akan dipersilahkan masuk-keluar dengan aman. Terang saja, para kesatria salibis tak ingin melepaskan Yerussalem, karena itu adalah kemenangan hakiki mereka dan tujuan dari seluruh perang dan penaklukan. Salahuddin, lalu mengepung kota suci itu, mengambilnya dengan paksa lalu menanganinya persis apa yang pernah dilakukan Khalifah Umar bin Khattab: tidak ada pembantaian, tidak ada penjarahan, dan membebaskan semua tawanan, setelah membayar tebusan.

Walaupun dilakukan dengan lembut, perebutan kembali Yerussalem oleh Salahuddin dengan sepenuhnya mengembalikan apa yang telah dirampas oleh Perang Salib Pertama dalam sejarah Islam, menimbulkan gejolak baru di Eropa dan mendorong tiga raja paling berpengaruh untuk merencanakan serangan Perang Salib ketiga yang sangat terkenal. Salah satunya adalah Frederick Barbarossa dari Jerman, yang jatuh dari kudanya ke dalam air setinggi beberapa inci dan tenggelam dalam perjalanan ke Tanah Suci. Yang lainnya adalah Raja Prancis Philip II, berhasil sampai ke Yerussalem, mengambil bagian dalam penaklukan pelabuhan Acre, dan kamudiaan pulang kelelahan.

Yang tersisa tinggal Raja Inggris Richard I, dikenal bangsanya sebagai Hati Singa. Dia adalah perajurit perang yang tangguh, tetapi ia tidak layak menjadi kesatria teladan: dia mudah mengingkari janjinya dan rela melakukan apa saja demi memenangkan peperangan. Dia, dan Salahuddin saling berhadapan selama satu tahun, dan Richard memenangkan pertempuran utama mereka, tapi ketika mengepung Yerussalem pada Juni 1192, penyakit telah mengurangi kekuatannya dan udara panas membuatnya sesak napas. Salahuddin mengiriminya dokter dan buah segar serta salju dingin lalu menunggu Richard menyadari bahwa dia tidak memiliki cukup kekuatan untuk merebut kembali Yerussalem. Akhirnya, Richard setuju berdamai dengan Salahuddin, dengan syarat: kaum muslimin akan tetap memiliki Yerussalem, tetapi melindungi gereja-gereja milik orang Kristen, dan membiarkan mereka menjalankan iman tanpa gangguan, juga membiarkan para peziarah datang dan pergi sesuka hati. Richard dan segenap pasukan perang salib yang tersisa beranjak pulang, didahului oleh berita bahwa dia telah meraih semacam kemenangan di Tanah Suci. Ini terasa lucu, sebab kenyataannya, dia menyetujui persis seperti yang ditawarkan Salahuddin sejak awal. Dan, telah diperaktikkan selama perebutan kembali Yerussalem.

Setelah perang salib ketiga usai, tidak banyak lagi hal penting yang berlaku, ada pun perang-perang yang terjadi, misalnya pada tahun 1206 di mana pasukan salib hanya kelelahan di sepanjang jalan, sebab dipukul mundur oleh pasukan yang ada di kota-kota Islam rute menuju Yerussalem. Dan, pada pertengahan abad ke-13, seluruh dorongan perang salib telah melemah di Eropa dan pada akhirnya pupus.

Penutup
 
Kekalahan Pasukan Salib telah menjadi dendam sejarah dan berusaha untuk membayarnya, walaupun pada dasarnya umat Islam memandang bahwa perang telah usai, tidak ada dendam, dan hanya merebut kembali apa yang menjadi hak milik mereka. Selain itu, pasukan salibis selama pencaplokannya di berbagai negeri Muslim tidak membawa apa-apa kemajuan apalagi peradaban, yang diingat hanya kebengisan dan kebiadaban bahkan kanibalisme. Mereka justru menangguk ilmu dan meniru peradaban yang ada di negeri Timur, membawa balik ke Barat, lalu menyusun strategi, dan kembali ke Timur pada beberapa abad kemudian, dalam bentuk formasi pasukan salibis yang jauh lebih canggih, di saat umat Islam sedang tidur terlelap berkubang kemalasan, kemunduran, dan kejumudan.

Kini, episode perang salib terus terulang, dan umat Islam terus saja berada dalam tekanan, terutama pasca pencaplokan Yerussalem melalui tangan Yahudi pada abad ke-19. Setiap ada yang bersuara untuk menyatukan umat, maka, ia akan dicap radikalisme dan terorisme. Nampaknya, Hashashin tetap ada di balik layar dalam bentuk yang berbeda, sayang umat terlalu lugu dan mudah diadu-domba.

Negara-negara Islam di bawah Ahlussunnah satu-persatu rontok dan jatuh dalam lubang ular, sebagaimana yang terjadi di Irak, Mesir, Libiya, Lebanon, Suriah, dan kini Yaman.

Negara-negara di kepulauan Nusantara pun jadi target, kaum Hashasin tersebar dengan formasi elegan, mengajak persatuan tapi menebar racun pada umat dengan memaki dan mengumpat sahabat Nabi. Hashasin-Syiah dapat bekerjasama dengan siapa dan apa pun untuk merontokkan Ahlussunnah, karena itu jangan heran jika muslim Rohingya dibantai lalu diusir oleh Buddha Miyammar, para penggiat HAM-Barat cuek saja, atau muslim Tolikara-Papua odilempari baru ketika salat Ied dan dibakar masjid, rumah dan tempat usahanya oleh Umat Kristen, Hashashin bersuka ria. Wallahu A’lam

Oleh: Ilham Kadir, Peneliti MIUMI dan Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor

Sumber : Ilham Kadir