Seputar Dunia Islam

Kamis, 29 Juli 2010

Sehelai Bulu Mata Menyelamatkan Dari Api Neraka

Dikisahkan kelak pada hari Pembalasan, ada seorang hamba Allah sedang diadili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia berkeras membantah. "Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu."

"Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa," Jawab Malaikat. Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi ia tidak menjumpai seorang saksi pun yang sedang berdiri. Disitu dia hanya sendirian.

Makanya ia pun menyanggah, "Manakah saksi-saksi yang kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa-siapa kecuali aku dan suaramu."

"Inilah saksi-saksi itu,"ujar malaikat.

Tiba-tiba mata angkat bicara, "Saya yang memandangi."
Disusul oleh telinga, "Saya yang mendengarkan."
Hidung pun tidak ketinggalan, "Saya yang mencium."
Bibir mengaku, "Saya yang merayu."
Lidah menambah, "Saya yang menghisap."
Tangan meneruskan, "Saya yang meraba dan meremas."
Kaki menyusul, "Saya yang dipakai lari ketika ketahuan."

"Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu", ucap malaikat.

Orang itupun tidak dapat mampu membuktikan sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dimasukkan ke dalam neraka jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu.

Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya: "Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi." "Silakan", kata malaikat. "Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yang lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah Nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertaubat, walaupun selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan."

Dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke surga. Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni surga: "Lihatlah, Hamba Tuhan ini masuk surga karena pertolongan sehelai bulu mata."

Karena itu selalu berbuat baiklah ketika kita masih di berikan kesempatan oleh Allah SWT. Jangan sia-siakan kesempatan tersebut selagi nyawa masih dikandung badan.

Minggu, 25 Juli 2010

Kisah Dirampasnya Selendang Allah

Baghdad, akhir Muharram tahun 656 H. Ini adalah bulan dan tahun dimana kebesaran kekuasaan dan peradaban Islam dikubur dalam-dalam, di bawah lautan darah yang tak lagi merah. Ya, ini adalah tahun pupusnya Khilafah Abbasiyah Kedua, dalam tragedi pembantaian yang sangat biadab.

Pasukan Tartar adalah pembantai itu. Orang-orang Mongol dan Siberia yang telah dipersatukan Jengis Khan, berubah menjadi monster-monster kalap yang sangat haus darah dan nyawa manusia.

Sebelumnya, kota-kota Islam penting di bawah kekuasaan Khawarizm runtuh. Seperti Bukhara, Samarqand, Hamadan, Maru, dan Naisabur, semuanya takluk di bawah Mongol.

Setelah itu tentara Mongol bergeser ke Persia, juga melakukan hal yang sama di sana. Ibnul Atsir, salah seorang sejarawan Muslim tersohor sampai-sampai tidak mampu melukiskan bagaimana peristiwa menyedihkan itu terjadi. Ia bahkan tidak bisa menuliskan peristiwa itu kecuali beberapa tahun kemudian.

Ia berkata, "Aku berdiam diri beberapa tahun dalam keadaan dihantui peristiwa tersebut, dihantui kedahsyatannya, juga kebencianku kepada peristiwa itu. Siapakah yang bisa dengan sederhana meratapi Islam dan kaum muslimin? Siapakah yang bisa dengan mudah mengingat kepedihan itu? Aduhai sekiranya ibuku tidak melahirkanku, sekiranya aku mati sebelum ini, dan aku hanya menjadi manusia yang dilupakan."

Dari Persia, kebengisan mereka dilanjutkan ke Baghdad, jantung kekuasaan Khalifah Abbasiah Kedua. Sang Khalifah, Al-Musta'syim Billah dibunuh beserta keluarganya. Kaum muslimin dihabisi. Pembantaian itu sendiri berlanjut selama empat puluh hari empat puluh malam. Mayat-mayat berserakan dimana-mana. Satu juta delapan ratus ribu mayat bukan angka yang sedikit. Bahkan Ibnu Katsir menyebut korban tewas dari kaum muslimin mencapai dua juta orang. Benar-benar mengenaskan.

Lambang-lambang peradaban Islam diruntuhkan. Perpustakaan dibinasakan. Ini sejarah kedzaliman yang sangat menyakitkan sepanjang sejarah kaum muslimin. Yang terakhir saat ini pun, Yahudi melalui kekuasaan di Amerika Serikat terus melakukan kedzaliman-kedzaliman fisik maupun non fisik kepada kaum muslimin. Sangat tidak adil jika kaum muslimin terus difitnah, ditekan, dibunuh dengan menghalalkan segala cara. Kedzaliman, sungguh, sepanjang sejarah telah menjadi hiasan orang-orang yang berkuasa, atau mereka yang sok berkuasa. Keangkuhan, kesombongan, dan kebiadaban, telah menjadi selendang kebanggaan mereka.

1. Merampas selendang Allah, dalam arti menyekutukan-Nya.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa': 48)

2. Merampas selendang Allah, dalam arti merendahkan eksistensi-Nya.
Ini tidak hanya menjadi tabiat orang-orang kafir yang tidak percaya keberadaan Allah. Seperti umat-umat terdahulu yang disiksa dengan bermacam azab karena menolak keberadaan Allah SWT. Umat Nabi Nuh ditenggelamkan, umat Nabi Luth ditelan bumi, begitu juga dengan yang lainnya.

Dunia yang telah dijajah oleh paham materialisme, memang benar-benar telah melahirkan manusia yang berani merampas selendang Allah, melalui pemikiran-pemikiran mereka, keyakinan ilmiah mereka, juga tata kehidupan mereka.

Penyakit ini tentu tidak boleh merasuki jiwa seorang Muslim. Apa pun kondisi dunia yang diarunginya. Allah terlalu Perkasa bagi seorang manusia, bahkan seluruh makhluk-Nya. Betapa Allah memiliki tentara di langit dan di bumi. Tidak ada yang mengetahui kecuali Dia.

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."

"Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan."

"Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya, dan diutusnya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya." (QS. Al-An'aam: 59-61)

3. Merampas selendang Allah, dalam arti menyakiti-Nya dan menghinakan para hamba-Nya yang beriman.
"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melanatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mumin dan muminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzaab: 57-58) "Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mumin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar." (QS. Al-Buruuj: 10)

4. Merampas selendang Allah, dalam arti menyakiti diri-sendiri
Apakah mendzalimi diri-sendiri termasuk kategori merampas selendang Allah? Ya. Sebab secara kronologis, mendzalimi diri sendiri artinya seseorang dengan sombong menolak kekuasaan Allah mengatur dirinya. Padahal Allah berkuasa dan berhak untuk mengatur manusia sesuai jalan yang diinginkannya.

Disarikan dari : Tarbawi edisi 70 Th V

Abu Ubaidah bin Jarrah, Gubernur Syam Yang Zuhud


Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang terpercaya dan dicintai Rasulullah saw. Dia ikut banyak peperangan membela panji-panji Islam. Bahkan, menjadi panglima perang yang sangat memperhatikan keselamatan tentaranya.

Bahkan Abdullah bin Masud bangga dengannya. Paman-pamanku yang paling setia sebagai sahabat Rasulullah saw, cuma tiga orang. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah, begitu ujarnya.

Rasulullah saw. sendiri mengakui kualitas Abu Ubaidah. Bagi suatu kaum adalah seseorang yang paling mereka percayai dan bagi kaum ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, begitu sabda Rasulullah saw.

Di masa pemerintahan Abu Bakar sebagai Khalifah, Abu Ubaidah dipercaya sebagai Ketua Pengawas Perbendaharaan Negara. Abu Bakar kemudian mengangkatnya menjadi Gubernur Syam. Jabatan ini diemban Abu Ubaidah hingga di masa pemerintahan Umar bin Khattab.

Tak lama kemudian Umar mengangkat Abu Ubaidah sebagai Panglima Perang menggantikan Khalid bin Walid.

Suatu ketika, ketika di masa pemerintahan Abu Ubaidah, Syam dikepung musuh. Umar berkirim surat kepada Abu Ubaidah. Isinya, Sesunggunya tidak akan pernah ada seorang mukmin yang dibiarkan Allah dalam suatu penderitaan melainkan Dia akan melapangkan jalannya, hingga kesulitan akan dibalas-Nya dengan kemudahan.

Surat itu dibalas oleh Abu Ubaidah dengan kalimat, Sesungguhnya Allah swt. telah berfirman: Ketahuilah bahwasanya kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau, bermewah-mewah, dan saling membanggakan kekayaan dan anak pinak di antaramu, ibarat hujan (menyirami bumi), tumbuh-tumbuhan (menjadi subur menghijau), mengagumkan para petani. Lalu tanaman itu mengering, tampak menguning, kemudian menjadi rapuh dan hancur. Sedang di akhirat kelak, ada azab yang berat (bagi mereka yang menyenangi kemewahan dunia) namun ada pula ampunan dan keridhaan Allah (bagi yang mau bertobat). Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu belaka. (Al-Haddid: 20)

Surat balasan Abu Ubaidah ini oleh Umar dibacakan di depan kaum muslimin seusai melaksanakan shalat berjamah. Wahai penduduk Madinah, sesungguhnya Abu Ubaidah mengharapkan aku dan kalian semua suka berjihad, kata Umar.

Memang Abu Ubaidah dikenal orang di zamannya sebagai orang yang zuhud. Umar pernah berkunjung ke Syam ketika Abu Ubaidah menjabat sebagai gubernur. Abu Ubaidah, untuk apakah aku datang ke rumahmu? tanya Umar. Jawab Abu Ubaidah, Untuk apakah kau datang ke rumahku? Sesungguhnya aku takut kau tak kuasa menahan air matamu begitu mengetahui keadaanku nanti.

Namun Umar memaksa. Akhirnya Abu Ubaidah mengizinkan Umar berkunjung ke rumahnya. Sungguh Umar terkejut. Ia mendapati rumah Sang Gubernur Syam kosong melompong. Tidak ada perabotan sama sekali.

Umar bertanya, Hai Abu Ubaidah, di manakah penghidupanmu? Mengapa aku tidak melihat apa-apa selain sepotong kain lusuh dan sebuah piring besar itu, padahal kau seorang gubernur?

Adakah kau memiliki makanan? tanya Umar lagi. Abu Ubaidah kemudian berdiri dari duduknya menuju ke sebuah ranjang dan memungut arang yang didalamnya.

Umar pun meneteskan air mata melihat kondisi gubernurnya seperti itu. Abu Ubaidah pun berujar, Wahai Amirul Mukminin, bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kau ke sini hanya untuk menangis. Umar berkata, Ya Abu Ubaidah, banyak sekali di antara kita orang-orang yang tertipu oleh godaan dunia.

Suatu ketika Umar mengirimi uang kepada Abu Ubaidah sejumlah empat ribu dinar. Orang yang diutus Umar melaporkan kepada Umar, Abu Ubaidah membagi-bagi kirimanmu. Umar berujar, Alhamdulillah, puji syukur kepada-Nya yang telah menjadikan seseorang dalam Islam yang memiliki sifat seperti dia.

Begitulah Abu Ubaidah. Hidup baginya adalah pilihan. Ia memilih zuhud dengan kekuasaan dan harta yang ada di dalam genggamannya. Baginya jabatan bukan aji mumpung buat memperkaya diri. Tapi, kesempatan untuk beramal lebih intensif guna meraih surga.

Sabtu, 24 Juli 2010

Rasulullah Dan Seorang Pengemis Yahudi Buta

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya."

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah saw mendatanginya dengan membawakan makanan. Tanpa berucap sepatah kata pun, Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah Muhammad—orang yang selalu ia caci maki dan sumpah serapahi.

Rasulullah saw melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah saw praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar berkunjung ke rumah anaknya Aisyah, yan g tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah. Ia bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan?"

Aisyah menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja."

“Apakah Itu?" tanya Abubakar penasaran. Ia kaget juga karena merasa sudah mengetahui bagaimana kebiasaan Rasulullah semasa hidupnya.

"Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana," kata Aisyah.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu ?"

Abubakar menjawab, "Aku orang yang biasa."

"Bukan! Engkau bukan ora ng yang biasa mendatangiku," bantah si pengemis buta itu dengan ketus "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku."

Abubakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah saw."

Seketika itu juga kaget pengemis itu. Ia pun menangis mendengar penjelasan Abubakar, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... " Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar saat itu juga dan sejak hari itu menjadi Muslim.

Rabu, 02 Juni 2010

Mutiara Yang Sangat Berharga


Seorang guru wanita sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, ditangan kanannya ada pemadam. Guru itu berkata, "Saya ada satu permainan... Caranya begini, ditangan kiri saya ada kapur,di tangan kanan ada pemadam. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat pemadam ini, maka katalah "Pemadam!"

Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka sebutlah "Pemadam!", jika saya angkat pemadam, maka katakanlah "Kapur!". Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja murid-murid tadi keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti.

Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. "Murid-murid, begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh musuh kita memaksakan kepada kita dengan berbagai cara, untuk menukarkan sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kamu akan terbiasa dengan hal itu. Dan anda mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kamu tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.

"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang aneh, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, tanpa rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain lain." "Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, anda sedikit demi sedikit menerimanya tanpa rasa ia satu kesalahan dan kemaksiatan. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham Bu guru..."

"Baik permainan kedua..." begitu Guru melanjutkan.

"Ibu Guru ada Qur'an, Ibu Guru akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang anda berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada ditengah tanpa memijak karpet?" Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencuba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain.

Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet .
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya...Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak anda dengan terang-terang...Karena tentu anda akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung anda perlahan-lahan dari pinggir, sehingga anda tidak sadar.

"Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibuat pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dgn pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, Almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan. ..."

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan meletihkan anda. Mulai dari perangai anda, cara hidup, pakaian dan lain-lain,sehingga meskipun anda muslim, tapi anda telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yang mereka... Dan itulah yang mereka inginkan." "Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kita... "

"Kenapa mereka tidak berani terang-terang menginjak-injak Ibu Guru?" Tanya murid- murid. "Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi." "Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar".

"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdoa dahulu sebelum pulang...." Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya...

RENUNGILAH SAHABAT SEMUA..

TOLONG SEBARKAN PADA SAUDARA-SAUDARA ISLAM KITA..SEMOGA ALLAH MEMBERI TAUFIQ DAN HIDAYAH PADA KITA DAN KELUARGA KITA... MARILAH KITA SAMA2 SADAR BAHWA
AGAMA, BANGSA DAN TANAH AIR KITA SEMAKIN TERANCAM!

UMAT ISLAM SEMAKIN MUDAH DIBELI DENGAN UANG, DILALAIKAN DENGAN KEINDAHAN DAN MEMUJA KESERAKAHAN HIDUP, HINGGA HILANG MARTABAT DAN HARGA DIRI!!

UNTUK ITU, MARILAH, KITA BETULKAN APA YG KITA MAMPU BERSAMA-SAMA..JANGAN HANYA BILA SEGALANYA SUDAH TERJADI, SAMA SEPERTI SAUDARA KITA DI NEGARA-NEGARA LAINNYA, BARU KESADARAN ITU TIMBUL, MUNGKIN MASIH BELUM TERLAMBAT TAPI KITA MASIH BISA INSYA ALLAH MEMPERBAIKINYA. MULAI DARI DIRI KITA, KELUARGA KITA, KERABAT, SAHABAT DAN ORANG-ORANG DISEKELILING KITA

YA ALLAH, SATUKANLAH UMAT ISLAM.. AMIIINN...

Sebagai umat Islam yang bertanggungjawab, tolonglah forwardkan e-mail ini kepada sahabat-sahabat Islam kita yang lain. Semoga yang baik dijadikan teladan dan yang buruk dijadikan peringatan.. WALLAHU A’LAM!!!!

Alhamdulillah ,kebenaran senantiasa datang dari Allah subhanahu wa ta'ala kita sebagai hamba-Nya hanya bisa berusaha dan berdoa serta terus berusaha untuk menjaga supaya nikmat IMAN dan ISLAM senantiasa tetap bersemi indah dalam diri kita, amin Ya Allah...

"Bukanlah dikatakan orang baik jika kita masih bermaksiat kepada Allah ta'ala"

Saudariku se-iman, yang belum berhijab, segeralah berhijab, hidayah Allah tidak datang begitu saja, melainkan harus diusahakan. Berusaha dan terus berusaha untuk mempelajari qalam-Nya, berjalan di muka bumi berpegangan terhadap Quran dan Sunnah sesuai pemahaman Salafus Shalih, Insya Allah.

Selasa, 18 Mei 2010

Makna Kehilangan

Pada suatu hari di suatu tempat seorang bapak tua hendak menumpang sebuah bus. Ketika bus berhenti dan saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya. "

Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup - jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya. Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita. Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik. Ini semua dapat diartikan : Supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.

Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik. Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan.

Berkeras hati dan berusaha mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal, suatu keadaan atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain. Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. Karena tiada badai yang tak berlalu. Tiada Pesta yang tak pernah usai. Semua yang ada didunia ini tiada yang abadi

Minggu, 09 Mei 2010

Pedang-pedang Rasulullah Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang lemah lembut. Walau begitu, beliau juga terkenal sebagai panglima perang yang handal. Namun, Baginda Nabi SAW tidaklah berlaku seperti raja atau pembesar pada umumnya yang hanya duduk di singgasananya sementara prajuritnya bertempur di medan perang.Jika Islam terusik, beliau selalu memimpin kaum muslimin dengan berada di garda terdepan di garis pertempuran melawan para kafir harbi.

Pertempuran selalu akrab dengan yang disebut sebagai peralatan dan perlengkapan perang. Mulai dari beraneka jenis senjata, pedang, tompak, busur beserta anak panah, tameng atau perisau, baju zirah atau baju perang, sepatu alas kaki, dan lain sebagainya.

Menurut catatan sejarah, Rasulullah SAW mempunyai juga peralatan dan perlengkapan perang seperti yang disebut diatas. Seperti misalnya, beliau mempunyai beberapa buah pedang, busur beserta anak panahnya, baju zirah atau baju perang, sepatu alas kaki, dan lain sebagainya. Rasulullah SAW memiliki 3 busur panah, Rauha', dan Sauhath, serta si Kuning. Di sebut si Kuning karena busur panah itu berwarna kuning.

Berkaitan dengan pedang, beliau disebutkan mempunyai 9 buah pedang. Beragam pedang itu beliau dapatkan dari warisan, hibah, maupun juga dari pampasan perang.


Pedang-pedang beliau diantaranya itu adalah sebagai berikut :

1. Pedang Al-Ma’thur.


Pedang ini merupakan warisan dari ayahanda beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib. Pedang Al-Ma’thur atau Ma’thur al-Fijar ini berbentuk blade dengan panjang 99 cm. Pegangannya terbuat dari emas dengan bentuk berupa menyerupai ular dan dihiasi dengan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat Kufic ukiran tulisan huruf Arab yang berbunyi ‘Abdallah bin Abd al-Mutalib’.


Pedang ini yang menyertai perjalanan hijrah beliau dari Makkah menuju ke Madinah. Pedang ini di kemudian hari bersama dengan beberapa perang lainnya diberikan beliau kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib.


2. Pedang Qal’i.


Pedang Qal’i atau Qul’ay yang juga dapat berarti tin atau timah putih. Nama pedang ini juga kemungkinan erat kaitan hubungannya dengan nama suatu tempat di Syria atau di India dekat Cina.


Pedang berdesain menyerupai gelombang dengan panjang 100 cm ini didekat pegangannya terdapat tulisan dalam bahasa arab Pedang ‘Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah’.
Pedang ini diketemukan oleh kakeknya Nabi Muhammad SAW saat beliau membuka mata air zamzam di Makkah.



3. Pedang Al-Qadib.


Pedang Al-Qadib berupa pedang ringan yang panjangnya 100 cm, berbentuk blade tipis menyerupai batang tipis sehingga bisa dikatakan mirip dengan tongkat.Pedang berwarna silver yang disisinya tertuliskan ukiran kalimat ‘Tidak ada berhala tetapi Allah, Muhammad adalah utusan Allah—Muhammad b. Abdallah b. Abd. Al-Muttalib’ ini bersarungkan kulit hewan yang dicelup.


Pedang ini tak pernah beliau gunakan di peperangan, hanya selalu berada di rumah kediaman Nabi Muhammad SAW. Kegunaan pedang hanya untuk pertahanan atau persahabatan saat beliau berpergian saja.
Di kemudian hari, pedang ini digunakan oleh khalifah Fatimid.


4. Pedang Al-Rasub.


Pedang Al-Rasub ini juga merupakan pedang yang selalu ada di rumah kediaman Rasullullah SAW. Karena hal yang demikian, maka ada juga yang menyebutnya sebagai pedang rumah Rasulullah untuk menjaga keluarga beliau, seperti layaknya bahtera (Ark) yang disimpan oleh bangsa Israel. Pedang berbentuk blade dengan panjang 140 cm itu mempunyai bulatan emas yang didalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi ‘Ja’far al-Sadiq’.
 
5. Pedang Al-Mikhdham.


Pedang ini panjangnya 97 cm dan terpahat ukiran tulisan Arab yang berbunyi ‘Zayn al-Din al-Abidin’.
Pedang ini oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW di kemudian hari diberikan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra, selanjutnya diwariskan turun temurun ke anak cucu keturunannya Sayyidina Ali ra.

6. Pedang Dhu Al-Faqar.


Pedang Dhu al-Faqar atau juga disebut dengan nama Dzulfikar ini berbentuk blade dengan dua mata pedang. Pedang ini beliau dapatkan dari hasil pampasan perang pada saat perang Badar.
 

Pada perang Uhud, pedang ini diberikan oleh Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra. Seusai perang, pedang ini dalam keadaan yang bersimbah darah, dikembalikan kepada Nabi SAW.

7. Pedang Al-’Adb.


Nama Al-’Adb mempunyai arti memotong atau tajam. Pedang ini beliau gunakan sewaktu perang Uhud.
Pedang ini dikirim ke para sahabat beliau sesaat sebelum Perang Badar untuk menunjukkan kesetiaan mereka kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

8. Pedang Al-Battar.


Pedang Al-Battar yang merupakan pampasan perang dari Bani Qaynuqa ini berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Pedang yang mempunyai sejarah panjang ini disebut sebagai ‘Pedangnya para Nabi‘. Pedang yang terdapat gambar Nabi Daud as ketika memotong kepala Namrud yang merupakan pemilik asli pedang ini, berukirkan tulisan Arab yang berbunyi ‘Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW’.


Konon, banyak kalangan meyakini bahwa Pedang al-Battar inilah yang kelak akan digunakan Nabi Isa AS ketika diturunkan ke bumi lagi untuk mengalahkan Dajjal.

9. Pedang Hatf.


Pedang Hatf yang merupakan pampasan perang dari Bani Qaynuqa ini berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm. Pedang ini bersejarah panjang. Nabi Daud as, mengambil pedangnya al-Batar dari tangan Namrud sebagai harta rampasan ketika beliu mengalahkannya. Saat itu umur beliau kurang dari 20 tahun. Allah SWT lalu memberikan mu’jizat kepada Nabi Daud berupa kemampuan untuk membuat senjata, tameng dan peralaan perang dari besi.

Kemudian beliau, Nabi Daud as, membuat pedang yang dinamai Hatf, sebuah pedang yang menyerupai al-Battar tetapi berdimensi lebih besar. Nabi Daud as menggunakan pedang ini sampai wafat, yang kemudian pedang itu dirawat oleh suku Levitar, salah satu suku bangsa Israel.


Setelahnya itu, pedang Hatf itu akhirnya sampai ke tangan Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW.

Pedang-pedang itu, saat ini, sebagian besar tersimpan di museum Topkapi, Istanbul Turki. Sebagian juga ada yang tersimpan di museum cairo Mesir, dan beberapa tempat lainnya.