Minggu, 25 Juli 2010

Kisah Dirampasnya Selendang Allah

Baghdad, akhir Muharram tahun 656 H. Ini adalah bulan dan tahun dimana kebesaran kekuasaan dan peradaban Islam dikubur dalam-dalam, di bawah lautan darah yang tak lagi merah. Ya, ini adalah tahun pupusnya Khilafah Abbasiyah Kedua, dalam tragedi pembantaian yang sangat biadab.

Pasukan Tartar adalah pembantai itu. Orang-orang Mongol dan Siberia yang telah dipersatukan Jengis Khan, berubah menjadi monster-monster kalap yang sangat haus darah dan nyawa manusia.

Sebelumnya, kota-kota Islam penting di bawah kekuasaan Khawarizm runtuh. Seperti Bukhara, Samarqand, Hamadan, Maru, dan Naisabur, semuanya takluk di bawah Mongol.

Setelah itu tentara Mongol bergeser ke Persia, juga melakukan hal yang sama di sana. Ibnul Atsir, salah seorang sejarawan Muslim tersohor sampai-sampai tidak mampu melukiskan bagaimana peristiwa menyedihkan itu terjadi. Ia bahkan tidak bisa menuliskan peristiwa itu kecuali beberapa tahun kemudian.

Ia berkata, "Aku berdiam diri beberapa tahun dalam keadaan dihantui peristiwa tersebut, dihantui kedahsyatannya, juga kebencianku kepada peristiwa itu. Siapakah yang bisa dengan sederhana meratapi Islam dan kaum muslimin? Siapakah yang bisa dengan mudah mengingat kepedihan itu? Aduhai sekiranya ibuku tidak melahirkanku, sekiranya aku mati sebelum ini, dan aku hanya menjadi manusia yang dilupakan."

Dari Persia, kebengisan mereka dilanjutkan ke Baghdad, jantung kekuasaan Khalifah Abbasiah Kedua. Sang Khalifah, Al-Musta'syim Billah dibunuh beserta keluarganya. Kaum muslimin dihabisi. Pembantaian itu sendiri berlanjut selama empat puluh hari empat puluh malam. Mayat-mayat berserakan dimana-mana. Satu juta delapan ratus ribu mayat bukan angka yang sedikit. Bahkan Ibnu Katsir menyebut korban tewas dari kaum muslimin mencapai dua juta orang. Benar-benar mengenaskan.

Lambang-lambang peradaban Islam diruntuhkan. Perpustakaan dibinasakan. Ini sejarah kedzaliman yang sangat menyakitkan sepanjang sejarah kaum muslimin. Yang terakhir saat ini pun, Yahudi melalui kekuasaan di Amerika Serikat terus melakukan kedzaliman-kedzaliman fisik maupun non fisik kepada kaum muslimin. Sangat tidak adil jika kaum muslimin terus difitnah, ditekan, dibunuh dengan menghalalkan segala cara. Kedzaliman, sungguh, sepanjang sejarah telah menjadi hiasan orang-orang yang berkuasa, atau mereka yang sok berkuasa. Keangkuhan, kesombongan, dan kebiadaban, telah menjadi selendang kebanggaan mereka.

1. Merampas selendang Allah, dalam arti menyekutukan-Nya.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa': 48)

2. Merampas selendang Allah, dalam arti merendahkan eksistensi-Nya.
Ini tidak hanya menjadi tabiat orang-orang kafir yang tidak percaya keberadaan Allah. Seperti umat-umat terdahulu yang disiksa dengan bermacam azab karena menolak keberadaan Allah SWT. Umat Nabi Nuh ditenggelamkan, umat Nabi Luth ditelan bumi, begitu juga dengan yang lainnya.

Dunia yang telah dijajah oleh paham materialisme, memang benar-benar telah melahirkan manusia yang berani merampas selendang Allah, melalui pemikiran-pemikiran mereka, keyakinan ilmiah mereka, juga tata kehidupan mereka.

Penyakit ini tentu tidak boleh merasuki jiwa seorang Muslim. Apa pun kondisi dunia yang diarunginya. Allah terlalu Perkasa bagi seorang manusia, bahkan seluruh makhluk-Nya. Betapa Allah memiliki tentara di langit dan di bumi. Tidak ada yang mengetahui kecuali Dia.

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."

"Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan."

"Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya, dan diutusnya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya." (QS. Al-An'aam: 59-61)

3. Merampas selendang Allah, dalam arti menyakiti-Nya dan menghinakan para hamba-Nya yang beriman.
"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melanatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mumin dan muminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzaab: 57-58) "Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mumin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar." (QS. Al-Buruuj: 10)

4. Merampas selendang Allah, dalam arti menyakiti diri-sendiri
Apakah mendzalimi diri-sendiri termasuk kategori merampas selendang Allah? Ya. Sebab secara kronologis, mendzalimi diri sendiri artinya seseorang dengan sombong menolak kekuasaan Allah mengatur dirinya. Padahal Allah berkuasa dan berhak untuk mengatur manusia sesuai jalan yang diinginkannya.

Disarikan dari : Tarbawi edisi 70 Th V

0 komentar:

Posting Komentar